Page 424 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 424

416    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             sangat  bernuansa  paham  positivis  yang  mengabaikan  kaidah-kaidah  sosial  lainnya  dan
                                                                           7
             hukum yang hidup (living law) serta moral dalam masyarakat.
                  Undang-Undang Pokok Agraria adalah undang-undang yang mengatur dasar-dasar serta
             permasalahan  pokok  dalam  garis  besarnya  saja  mengenai  pertanahan,  karenanya  disebut
             undang-undang pokok agraria. Adapun pelaksanaannya akan diatur dalam berbagai undang-
                                                                                             8
             undang, peraturan pemerintah, dan peraturan perundangan-undangan lainnya.
                  Undang-Undang Pokok Agraria merupakan perundang-undangan yang dibentuk sebagai
             penyempurnaan perundang-undangan sebelumnya yang dianggap kurang mampu memberi
             keadilan  bagi  masyarakat  pribumi  sebagai  pemilik  "asli"  tanah,  air,  ruang  angkasa  serta
             kekayaan alam yang terkandung di seluruh wilayah Republik lndonesia.Tujuan utamanya

             menciptakan  kemakmuran  yang  adil  dan  merata.  Salah  satu  cara  yang  ditempuh  adalah
             dibentuknya konsep fungsi sosial hak atas tanah yang mewajibkan setiap  pemegang hak atas
             tanah  untuk  senantiasa  memperhatikan  keseimbangan  antara  kepentingan  individu  dan
             kepentingan umum dalam pemanfaatan serta penggunaan tanahnya. Hal ini bukan berarti
             tidak  ada  penghormatan  terhadap  hak-hak  individu  atas  tanah.  Undang-undang  Pokok

             Agraria  (UUPA)  justru  mencoba  menjembatani  keharmonisan  hubungan  antara  individu
             satu dengan individu lainnya. Jika seandainya ada seseorang yang “terpaksa” menyerahkan
             tanahnya untuk kepentingan umum, hal tersebut harus dilakukan melalui prosedur ganti
             kerugian yang memadai berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Setiap  pemegang
             hak atas tanah diwajibkan untuk mempergunakan tanahnya sesuai dengan keadaan tanah

             sifat  dan  tujuan  pemberian  haknya.  Seseorang    tidak  dibenarkan  untuk  mempergunakan
             maupun  tidak  mempergunakan  tanahnya  sekehendak  hati  tanpa  mempertimbangkan
             kepentingan umum.
                  Namun  salah  satu  persoalan  yang  selalu  dihadapi  sehubungan  dengan  pelaksanaan
             pengambilan tanah untuk kepentingan umum adalah menentukan titik keseimbangan antara
                                                                                   9
             kepentingan umum dan kepentingan pribadi di dalam pembangunan.  Pembahasan, menge-
             nai prinsip-prinsip kepentingan umum dalam pengadaan tanah untuk pembangunan men-
             jadi penting karena dengan adanya ‘pesepsi’ yang sama antara pemerintah dan masyarakat
             yang  tanahnya  diambil,  diharapkan  akan  meniadakan  paling  tidak  mengurangi  frekuensi
             konflik dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum ini.



                7  Adrian Sutedi, Implementasi prinsip kepentingan umum dalam pengadaan tanah untuk pembangunan,
             Sinar Grafika, Jakarta, 2007, hlm.
                8  Dalam Penjelasan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
             Agraria, disebutkan bahwa "Pada Pokoknya Tujuan Undang-Undang Pokok Agraria ialah:
                1.  Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional, yang akanmerupakan alat untuk
                   membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan baginegara dan rakyat, terutama rakyat tani,
                   dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur.
                2.  Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan.
                3.  Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah bagi
                   rakyat seluruhnya.
                9  A.A. Oka Mahendra, Menguak Masalah Hukum, Demokrasi dan Pertanahan, Sinar Harapan, Cetakan
             Pertama, Jakarta, 1996,  hlm.  256.
   419   420   421   422   423   424   425   426   427   428   429