Page 422 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 422

414    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             kesejahteraan  masyarakat,  sehingga  konsep  hak  kepemilikan  menentukan  susunan  kehi-
                                        2
             dupan dalam suatu negara.
                  Bagi manusia, tanah merupakan hal terpenting dalam hidup dan kehidupannya. Di atas
             tanah, manusia dapat mencari nafkah seperti bertani,berkebun, dan berternak. Di atas tanah

             pula  manusia  membangun  rumah  sebagai  tempat  berteduh  dan  membangun  berbagai
             bangunan lainnya untuk kepentingannya. Tanah juga mengandung berbagai macam sumber
             daya alam yang dapat dimanfaatkan manusia.

                  Dalam skala kecil, hasil yang diperoleh biasanya hanya cukup untuk kebutuhan hidup
             sehari-hari. Sedangkan dalam skala besar, dengan ditunjang oleh pengolahan dan keahlian
             khusus  serta  pemanfaatan  teknologi,  di  atas  tanah  dapat  diciptakan  peluang  bisnis  yang
             menggiurkan. Pendek kata, segala aktivitas manusia apa pun bentuknya, tidak akan lepas

             dari  kebutuhan  akan  tanah.  Bukanlah  hal  yang  mengherankan  apabila  setiap  orang  pasti
             mempunyai keinginan untuk dapat memiliki tanah lengkap dengan perlindungan hukum-
             nya. Perlindungan itu diwujudkan dengan pemberian berbagai macam hak atas tanah oleh
             negara sebagai petugas pengatur. Untuk itu perlu, dibentuk perundang-undangan yang jelas

             dan tegas.
                  Fungsi dan peran tanah dalam berbagai sektor kehidupan manusia memiliki empat aspek
                                                                                               3
             yang sangat strategis, yaitu aspek ekonomi, politik dan hukum, dan aspek sosial.  Keempat
             aspek  tersebut  merupakan  isu  sentral  yang  saling  terkait  sebagai  satu  kesatuan  yang
             terintegrasi dalam pengambilan proses kebijakan hukum pertanahan yang dilakukan oleh
                          4
             pemerintah.
                  Pengaturan  hukum  tentang  pengadaan  tanah  untuk  kepentingan  umum  dan  segala

             pengaturan yang terkait di Indonesia telah mengalami proses perkembangan sejak unifikasi
                                                                                                         5
             Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA).
             Pengadaan  tanah  untuk  kepentingan  umum  dalam  perkembangan  hukum  pertanahan  di
             Indonesia dilakukan dengan cara, yaitu pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda

             yang ada di atasnya.
                  Akan tetapi, dalam praktik ketentuan undang-undang ini tidak dapat berjalan seperti
             yang  diharapkan.  Untuk  mengatasi  hal  tersebut  pemerintah  mengeluarkan  ketentuan

             mengenai pembebasan hak atas tanah. Namun ketentuan ini juga dalam pratiknya banyak
             menimbulkan masalah sehingga tidak dapat berjalan secara efektif.


                2  Soejono dan Abdurrahman, Prosedur Pendaftaran Tanah Tentang Hak Milik, Sewa Guna dan Hak Guna
             Bangunan, Rineka Cipta, Jakarta, 1998. hlm. 1
                3  Y. Wartaya Winangun, SJ, Tanah Sumber Nilai Hidup, Cetakan l. Kanisius, Yogyakarta, 2004, hlm. 21
                4  H.  Idham,  Konsolidasi  Tanah  Perkotaan  dalam    Perspektif  Otonomi  Daerah,  Cetakan  l,  Alumni,
             Bandung, 2004, hlm. 1.
                5  Undang-undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 telah mengakhiri dualisme hukum pertanahan di
             Indonesia, yang dengan tegas telah mencabut Agrarische Wet (S. 1870), kemudian Domein Verklaring  yang
             tersebut dalam Pasal 1 Agrarische Besluit. Domein Verklaring untuk daerah Sumatra, Keresidenan Manado
             dan Keresidenan Bomeo, Koninklijk Besluit dan buku keduadari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
             Lihat, konsiderans Undang-Undang Pokok Agraria No .5 Tahun 1960.
   417   418   419   420   421   422   423   424   425   426   427