Page 425 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 425

Mukmin Zakie: Pergeseran Makna Kepentingan Umum dalam Pengadaan Tanah ...     417


             B.  Pengertian Kepentingan Umum
                  Terhadap rumusan kepentingan umum, belum dapat diberikan suatu definisi yang baku,
             hanya saja hakikat dari kepentingan umum dapat dikatakan untuk keperluan, kebutuhan
             atau kepentingan orang banyak atau tujuan sosial yang luas. Namun demikian, rumusan yang

             demikian masih terlalu umum dan tidak ada batasannya.
                  Bukan hanya di Indonesia, kesulitan merumuskan kepentingan umum juga terjadi di
             Amerika Serikat, yang dalam konstitusinya mensyaratkan penggunaan untuk umum (public

             use)  untuk suatu pencabutan hak. Semula penafsiran kepentingan umum sangal luas, yakni
             dengan  menggunakan    “standar  kebutuhan  umum”  (public  necessity),  “kebaikan  untuk
             umum” (public good) atau berfaedah untuk umum (public utility). Pada pertengahan abad ke-
             19, standar yang luas tersebut ditinggalkan, dan memperlakukan prinsip dasar yang sempit,

             dengan maksud agar pengadilan dapat mengawasi pelaksanaan pencabutan hak perusahaan-
             perusahaan swasta, yang kepadanya kekuasaan telah didelegasi. Prinsip dasar kepentingan
             umum  adalah  jika  suatu  milik  diambil  untuk  kepentingan  umum,  maka  milik  tersebut
             haruslah "digunakan oleh masyarakat” (use by the public), dan jika hanya "bermanfaat" untuk

             masyarakat, maka persyaratan kepentingan umum dianggap tidak terpenuhi.
                  Pada  abad  ke-20  pengadilan-pengadilan  meninggalkan  standar  yang  “digunakan  oleh
             masyarakat"  yang  sempit  itu,  dan  kembali  ke  standar  “kemanfaatan  umum"  yang  luas.

             Dewasa ini pengertian "digunakan untuk umum”, telah sinonim dengan pengertian, “keman-
             faatan umum”, karena itu beberapa konstitusi negara bagian menggunakan istilah kegunaan
             dan  ke  manfaatan  umum,  walaupun  beberapa  pengadilan  masih  mensyaratkan  bahwa
                                                               10
             masyarakat dapat menggunakan fasilitas tersebut.
                  Menurut John Salindeho, kepentingan umum sebagai kepentingan bangsa dan negara
             serta  kepentingan  bersama  dari  rakyat,  dengan  memperhatikan  segi-segi  sosial,  politik,
             psikologis, dan Hankamnas atas dasar asas-asas Pembangunan Nasional dengan mengindah-
                                                                 11
             kan Ketahanan Nasional serta Wawasan Nusantara.
                  Dengan memperhatikan sejarahnya, pelaksanaan fungsi sosial atas tanah dalam hukum
             adat telah berlangsung sejak lama, di mana fungsi sosial hak milik atas tanah sangat kuat dan
                           12
                                                                                                        13
             menjiwainya.  Menurut  Koesno,  nilai  fungsi  sosial  sebenarnya  inheren  pada  hak  milik.
             Sedangkan di Eropa, pengertian kepentingan umum baru timbul sekitar abad ke-19 sebagai
             reaksi dari penerapan dan penggunaan hak milik secara mutlak dan formalistis di dalam masa
                                                                              14
             puncak perkembangan kapitalisme dan industrialisme di Eropa.  Menurut Wolfgang Fried-



                10  Munir Fuady, Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktik, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999,  hlm. 205.
                11  John Salindeho, Masalah Tanah dalam Pembangunan, Sinar Grafika, Jakarta, 1988, hlm. 40.
                12  Munir Fuady, Op. Cit  hlm.206.
                13  Moh.  Koesno,  Catatan-Catatan  terhadap  Hukum  Adat  Dewasa  Ini,  Airlangga  University  Press,
             Surabaya, 1979, hlm. 158-159.
                14  C.F.G Sunaryati Hartono, Beberapa Pemikiran ke Arah Pembaruan Hukum Tanah, Alumni, Bandung:
             1978, hlm. 120.
   420   421   422   423   424   425   426   427   428   429   430