Page 469 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 469

PEROLEHAN TANAH UNTUKPEMBANGUNAN PLTU JAWA TENGAH 2 X
                  1.000 MW DI KABUPATEN BATANG: TANAH UNTUK KEPENTINGAN
                               SWASTA ATAU UNTUK KEPENTINGAN UMUM

                                                        Suhadi
                                    Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang
                            Gedung K, Kampus Unnes Sekaran, Gunungpati Kota Semarang
                                           E-mail: suhadi@mail.unnes.ac.id

                                                       Abstrak
                Praktik perolehan tanah untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa Tengah
                2 X 1.000 MW di Kabupaten Batang (PLTU Batang)mengungkapkan adanya ketidakjelasan tujuan
                perolehan tanah apakah untuk kepentingan swasta atau untuk kepentingan umum. PLTU Batang
                merupakan  proyek  infrastruktur  ketenagalistrikan  yang  dibangun  melalui  skema  kerjasama
                pemerintah dan badan usaha (swasta). Tanah untuk pembangunan PLTU Batang, diperoleh melalui
                2 cara, yaitu (1) izin lokasi yang diberikan kepada badan usaha (PT. Bhimasena Power Indonesia) dan
                (2) pengadaan tanah oleh  pemerintah, pihak yang memerlukan tanah adalah PT. PLN (Persero).
                Perolehan  tanah  melalui  izin  lokasi  menunjukkan  bahwa  pihak  yang  memerlukan  tanah  adalah
                badan  usaha  (swasta),  sedangkan  perolehan  tanah  melalui  pengadaan  tanah,  pihak  yang
                memerlukan tanah adalah instansi pemerintah dalam hal ini PT. PLN (Persero) sebuah Badan Usaha
                Milik  Negara.  Pengadaan  tanah  dilakukan  terhadap  bidang-bidang  tanah  yang  tidak  dapat
                dibebaskan oleh PT. Bhimasena Power Indonesia dengan menggunakan izin lokasi. Bidang-bidang
                tanah yang diperoleh melalui pengadaan tanah, lokasinya terpencar-pencar meskipun masih dalam
                area  lahan  yang  ditunjuk  dalam  izin  lokasi.  Tanah  yang  diperoleh  melalui  izin  lokasi  maupun
                pengadaan  tanah  digunakan  untuk  pembangunan  powerblock  PLTU  Batang  oleh  PT.  Bhimasena
                Power Indonesia. Tanah yang diperoleh melalui pengadaan tanah untuk kepentingan umum tetapi
                dalam kenyataannya digunakan oleh badan usaha (swasta) menunjukkan ketidakjelasan pengadaan
                tanah itu untuk kepentingan umum atau untuk kepentingan swasta. Untuk itu, diperlukan ketegasan
                pemerintah sejak awal terkait pengadaan tanah untuk pembangunan infrastruktur dengan skema
                kerjasama pemerintah swasta itu dilakukan oleh pemerintah atau oleh badan usaha(swasta).
                Kata kunci: izin lokasi, pengadaan tanah, PLTU Batang


             A. Pendahuluan
                  Kebutuhan tanah untuk pelaksanaan pembangunan di satu sisi terus berkembang tetapi
             di sisi lain jumlah bidang tanah relatif terbatas. Kementerian Perindustrian (Kemenperin)
             memperkirakan, kebutuhan lahan industri di Indonesia mencapai 1.200 ha. Dalam 5 tahun ke

             depan, sebanyak 60% permintaan lahan masih terpusat di Pulau Jawa dan sisanya tersebar di
             luar Pulau Jawa. "Setelah 2017, kemungkinan 70% permintaan lahan industri akan beralih ke
                                                                                                1
             luar  Jawa  sebagai  dampak  dari  hilirisasi  industri  dan  pengembangan  MP3EI".    Dalam
             kaitannya dengan penguasaan lahan pertanian, Kementerian Pertanian mencatat bahwa pada
             tahun  2012,  luas  penguasaan  lahan  per  petani  yaitu  0,22  hektar  dan  diperkirakan  akan
                                                    2
             menjadi 0,18 hektar pada tahun 2050.  Fakta ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan

                1  Sebagaimana  disampaikan  Dirjen  Pengembangan  Perwilayahan  Industri  (PPI)  Kemenperin  Dedi
             Mulyadi  di  Jakarta,  diakses  dari  <http://www.kemenperin.go.id  /artikel/4702/Kawasan-Industri-Butuh-
             Lahan-10-Ribu-Ha>, ( 27 Mei 2016)
                2  Kementerian  Pertanian.  Rencana  Strategis  Kementerian  Pertanian  2015-2019,  hal  82  diakses  dari
             <http://www.pertanian.go.id/file/RENSTRA_2015-2019.pdf>, ( 27 Mei 2016)

                                                          461
   464   465   466   467   468   469   470   471   472   473   474