Page 470 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 470

462    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             berkurangnya  penguasaan  lahan  pertanian,  yang  disebabkan  oleh  peralihan  fungsi  lahan
             pertanian untuk berbagai keperluan di luar bidang pertanian. Di bidang pekerjaan umum
             dan perumahan rakyat, berdasarkan target Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum
             dan Perumahan Rakyat, kebutuhan pengadaan tanah untuk tahun 2015-2019 diperkirakan

             mencapai 133.657 hektar, terdiri atas 21.172 hektar untuk bidang jalan, 111.437 hektar untuk
             bidang  sumber  daya  air,  592  hektar  untuk  bidang  cipta  karya,  dan  456  hektar  untuk
                                 3
             perumahan rakyat. Gambaran kebutuhan tanah sebagaimana diuraikan hanya merupakan
             sebagian dari kebutuhan tanah untuk pembangunan. Artinya, jumlah kebutuhan tanah yang
             sebenarnya tentu lebih banyak dari data yang ditunjukkan, seiring dengan  meningkatnya
             pembangunan di berbagai bidang.
                  Salah satu kegiatan pembangunan yang membutuhkan tanah dalam jumlah yang banyak

             adalah  pembangunan  infrastruktur,  antara  lain  pembangunan  pembangkit  tenaga  listrik.
             Pembangunan pembangkit listrik dipandang sangat penting untuk mengatasi krisis listrik
             nasional.  Data  dari  Rencana  Umum  Kelistrikan  Nasional  2008  s.d  2027  sebagaimana
             tercantum  dalam  Keputusan  Menteri  Energi  dan  Sumber  Daya  Mineral  Nomor

             2682K/21/MEM/2008 tanggal 31 November 2008, perkiraan kebutuhan listrik di daerah Jawa,
             Bali, dan Madura untuk tahun 2014 sebesar 43.144 MW, sedangkan perkiraan pasokan listrik
             di  daerah  Jawa,  Bali,  dan  Madura  tersebut  hanya  sekitar  14.057  MW,  untuk  kebutuhan
                                                                                                   4
             Indonesia diperkirakan sebesar 56.336 MW, sedangkan pasokannya hanya 18.015 MW.
                  PLTU Batang, proyek pembangkit listrik yang kapasitasnya 2 X 1000 MW merupakan
             proyek yang dimaksudkan sebagai bagian dari upaya pemerintah guna menanggulangi krisis
             listrik nasional. Pembangunan PLTU Batang merupakan pembangunan infrastruktur dengan

             pola Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) atau Public-Private Partnership (PPP).Proyek
             KPS PLTU Batang ini merupakan proyek showcase KPS skala besar pertama dengan nilai
             investasi  lebih  dari  Rp  54  Triliun,  sekaligus  proyek  KPS  pertama  yang  dilaksanakan
             berdasarkan Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah Dengan

             Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur. Kebutuhan tanah untuk pembangunan PLTU
             Batang secara keseluruhan, disajikan pada Tabel 1, namun dalam kajian ini dibatasi pada
             tanah  untuk  pembangunan  power  block  seluas  226,4  Ha  yang  terletak  di  wilayah  Desa

             Ujungnegoro dan Karanggeneng, Kecamaan Kandeman serta Desa Ponowareng Kecamatan
             Tulis Kabupaten Batang.







                3  Pernyataan  yang  disampaikan  Hediyanto  W  Husaini  mewakili  Menteri  Pekerjaan  Umum  dan
             Perumahan Rakyat dalam kegiatan Rakernas 2015 Kementerian Agraria dan  Tata Ruang /BPN pada tanggal
             27 Januari 2015, diakses dari <http://www.pu.go.id/main/view_pdf/9935 >, (7 Mei 2016)
                4 Lihat eksepsi Tergugat (Gubernur Provinsi Jawa Tengah dan PT. PLN (persero)) sebagaimana terdapat
             dalam Putusan Kasasi Nomor 02K/TUN/2016
   465   466   467   468   469   470   471   472   473   474   475