Page 496 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 496

Ketidakjelasan dan ketidakpastian hukum terhadap keberadaan
             masyarakat hukum adat serta hak-haknya atas tanah, semakin bertambah
             dengan disahkannya UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
             sebagai pengganti UU Pokok Kehutanan Nomor 5 Tahun 1967. Salah satu
             klausul yang bermasalah dalam Undang-undang Kehutanan 1999 ini adalah
             ketentuan yang yang mengatakan bahwa kawasan hutan adalah wilayah yang
             ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh pemerintah dengan tujuan melestarikan
             keberadaannya sebagai hutan tetap (Pasal 1 ayat 3), dan hutan adat adalah
             hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat (Pasal 1
             ayat 6). UU Kehutanan ini juga menetapkan bahwa pemerintah berwenang
             menunjuk kawasan hutan (Pasal 1(1), 1(2) dan 1(3). Penunjukan hutan
             adat dapat dilaksanakan sepanjang menurut kenyataan masyarakat hukum
             adat yang bersangkutan masih ada dan diakui keberadaannya (Pasal 5(3)),
             dan pengukuhan keberadaan dan hapusnya masyarakat hukum adat
             sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 67(2)). 57
                   Pengukuhan kawasan hutan Negara diatur di dalam Peraturan
             Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Hutan,
             Peraturan Menteri Kehutanan No.44/Menhut-II/2012 tentang Pengukuhan
             Kawasan Hutan, dan Peraturan Menteri Kehutanan No. 47/Menhut-
             II/2010 tentang Panitia Tata Batas Kawasan Hutan. Menurut kedua
             peraturan menteri tersebut ditentukan bahwa Dirjen Planologi Kehutanan
             dapat menetapkan sepihak kawasan hutan, tanpa menunggu persetujuan
             masyarakat yang menguasai wilayah setempat. Sedangkan untuk penetapan
             dan perubahan status dan fungsi kawasan hutan sebagian besar tercantum
             dalam Keputusan Menteri Kehutanan No.70/Kpts-II/2001. Menurut Pasal
             5 dan 16 PP No.44/2004, wewenang pengukuhan kawasan hutan Negara
             berada di tangan Menteri Kehutanan. Wewenang Pemerintah Daerah
             Kabupaten terbatas pada penentuan batas-batas kawasan hutan yaitu
             wewenang untuk membentuk Panitia Tata Batas yang berfungsi memberikan
             klarifikasi tentang status tanah dalam proses penyelenggaraan tata batas.
             Pemerintah daerah tidak mempunyai wewenang untuk mengukuhkan
             kawasan hutan, karena hal tersebut tetap menjadi kewenangan Menteri
             Kehutanan. 58





                   57 Ibid, hlm 8
                   58 Ibid, hlm 9


                Pengakuan dan Perlindungan Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat...  465
   491   492   493   494   495   496   497   498   499   500   501