Page 501 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 501

Nomor Perkara     Sebelum Putusan MK       Sesudah Putusan MK
                                     pada ayat (1) dan ayat (2);  Pemerintah menetapkan
                                   dan hutan adat ditetapkan   status hutan sebagaimana
                                  sepanjang menur ut       dimaksud pada ayat (1);
                                  kenyataannya masyarakat   dan hutan adat ditetapkan
                                  hukum adat yang bersangkutan   sepanjang menur ut
                                  masih ada dan diakui     kenyataannya masyarakat
                                  keberadaannya.           hukum adat yang
                                                           bersangkutan masih ada dan
                                                           diakui keberadaannya.


                 Putusan MK 45 merupakan sebuah koreksi terhadap “tindakan
            otoriter” yang dilakukan oleh pemerintah dalam pengelolaan hutan, yang
            dikarenakan pemerintah mendapatkan kewenangan dari undang-undang
            untuk menjadikan suatu wilayah menjadi kawasan hutan hanya dengan
            cara penunjukan. Kewenangan ini tentu berpotensi menafikkan hak-hak
            masyarakat yang ada pada wilayah tersebut, karena tidak ada proses yang
            dilaksanakan, sehingga tindakan tersebut hanyalah tindakan serta-merta
            yang dilakukan secara sepihak. Dalam Putusan MK45 disebutkan pada
            bagian pertimbangan Mahkamah sebagai berikut:

                 “Bahwa dalam suatu negara hukum, pejabat administrasi negara tidak boleh
                 berbuat sekehendak hatinya, akan tetapi harus bertindak sesuai dengan
                 hukumdan peraturan perundang-undangan, serta tindakan berdasarkan
                 freies Ermessen (discretionary powers). Penunjukan belaka atas suatu kawasan
                 untuk dijadikan kawasan hutan tanpa melalui proses atau tahap-tahap yang
                 melibatkan berbagai pemangku kepentingan di kawasan hutan sesuai dengan
                 hukum dan peraturan perundang-undangan, merupakan pelaksanaan
                 pemerintahan otoriter. Penunjukan kawasan hutan merupakan sesuatu yang
                 dapat diprediksi, tidak tiba-tiba, bahkan harus direncanakan, dan karenanya
                 tidak memerlukan tindakan freies Ermessen (discretionary powers). Tidak
                 seharusnya suatu kawasan hutan yang akan dipertahankan keberadaannya
                 sebagai hutan tetap, menguasai hajat hidup orang banyak, hanya dilakukan
                 melalui penunjukan.”

                 Pertimbangan Mahkamah yang tersebut di atas menyatakan bahwa
            tindakan yang menjadikan penunjukan sebagai dasar untuk menegaskan
            kawasan hutan definitif merupakan perbuatan otoriter yang tidak
            dapat dipertahankan lagi, karena hutan merupakan sumber daya yang




            470      Hubungan Keagrariaan
   496   497   498   499   500   501   502   503   504   505   506