Page 502 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 502

menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga harus ditetapkan melalui
             tahapan. Mahkamah Konstitusi juga telah menyatakan bahwa penunjukan
             sepihak oleh Menteri Kehutanan itu dengan sendirinya tidak memiliki
             kekuatan hukum mengikat.
                   Pada Putusan MK45 di dalam putusannya pada bagian pertimbangan
             [3.14] Mahkamah Konstitusi menyatakan:


                   “Menimbang bahwa adapun mengenai ketentuan peralihan dari UU
                   Kehutanan, khususnya Pasal 81 yang menyatakan, “Kawasan hutan yang
                   telah ditunjuk dan atau ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-
                   undangan yang berlaku, sebelum berlakunya undang-undang ini
                   dinyatakan tetap berlaku berdasarkan undang-undang ini”, menurut
                   Mahkamah, meskipun Pasal 1 angka 3 dan Pasal 81 Undang-Undang a quo
                   mempergunakan frasa“ ditunjuk dan atau ditetapkan”, namun berlakunya
                   untuk yang“ ditunjuk dan atau ditetapkan” dalam Pasal 81 Undang-Undang
                   a quo tetap sah dan mengikat”
                   Mahkamah Konstitusi tidak membatalkan frasa “ditunjuk dan atau”
             dalam Pasal 81, karena jika Mahkamah Konstitusi membatalkan frasa
             tersebut, maka semua penunjukan-penunjukan yang telah dilakukan
             sebelum Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 harus dinyatakan batal.
             Dihapusnya frasa ditunjuk pada Pasal 1 angka 3 tidak berarti semua wilayah
             yang telah menjadi kawasan hutan melalui penunjukan yang telah dilakukan
             sebelum Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 atau sebelum adanya
             putusan MK ini harus diperlakukan sama dengan penetapan kawasan
             hutan. Penunjukan yang dilakukan sebelum adanya Undang-Undang
             Nomor 41 Tahun 1999 harus diperlakukan sebagai tahap awal dalam
             proses pengukuhan kawasan hutan, yang kemudian perlu ditindaklanjuti
             dengan tahapan berikutnya dalam proses pengukuhan kawasan hutan yaitu
             penatabatasan, pemetaan dan penetapan. Hal ini sejalan dengan pasal 15
             ayat (1) UU Kehutanan ini, yang mengatur bahwa penunjukan adalah
             tahap awal dalam pengukuhan kawasan hutan dan perlu dilanjutkan dengan
             tahapan berikutnya.
                   Pada putusan Perkara No. 34/PUU-IX/2011, MK memperkuat
             pandangannya bahwa pengukuhan kawasan hutan harus memperhatikan
             keberadaan dan hak-hak masyarakat hukum adat, termasuk hak-hak
             perseorangan dan badan hukum.





                Pengakuan dan Perlindungan Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat...  471
   497   498   499   500   501   502   503   504   505   506   507