Page 503 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 503

Putusan MK ini mengganti pasal 4 ayat (3) menjadi:

                 “Penguasaan hutan oleh Negara tetap wajib melindungi, menghormati, dan
                 memenuhi hak masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih
                 ada dan diakui keberadaannya, hak masyarakat yang diberikan berdasarkan
                 ketentuan peraturan perundangundangan, serta tidak bertentangan dengan
                 kepentingan nasional.”

                 Maksud kata wajib melindungi, menghormati, dan memenuhi
            adalah ketika pemerintah akan menetapkan kawasan hutan, berkewajiban
            menyertakan pendapat masyarakat terlebih dahulu sebagai bentuk fungsi
            kontrol terhadap Pemerintah untuk memastikan dipenuhinya hak-hak
            konstitusional warga negara untuk hidup sejahtera lahir dan batin,
            bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan
            sehat, mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh
            diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun, hal ini sesuai dengan
            Pasal 28H ayat (1) dan ayat (4) UUD 1945.
                 Oleh karena itu, jika dalam proses pengukuhan kawasan hutan
            Pemerintah menemukan keberadaan dan hak masyarakat adat ataupun
            hak perseorangan berdasarkan peraturan perundang-undangan, maka
            Pemerintah berkewajiban untuk melakukan penyelesaian terlebih dahulu
            secara adil dengan para pemegang hak. 60
                 Mahkamah konstitusi berpendapat bahwa di dalam UU Kehutanan
            terdapat tiga subjek hukum yang memiliki hubungan hukum dengan hutan,
            yaitu negara, masyarakat hukum adat dan pemegang hak atas tanah yang
            di atasnya terdapat hutan. Pada putusan Perkara Nomor 35/PUU-X/2012,
            Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa pemegang hak atas tanah juga
            memegang hak atas hutan. Maka, dapat diartikan bahwa masyarakat hukum
            adat selain memegang hak atas tanah ulayat sekaligus memegang hak atas
            hutan adat. Perseorangan/badan hukum pemegang hak atas tanah juga
            memegang hak atas hutan hak. Dengan demikian, keberadaan hutan adat
            harus didahului dengan adanya tanah ulayat dari masyarakat hukum adat,
            karena hutan adat berada di atas tanah ulayat. 61




                 60Yance Arizona, Mahkamah Konstitusi dan Reformasi Tenurial Kehutanan, http://www.
            academia.edu/5470629/Mahkamah_Konstitusi_dan_Reformasi_Tenurial_Kehutanan  diakses pada
            tanggal 1 November 2014
                 61 Ibid


            472      Hubungan Keagrariaan
   498   499   500   501   502   503   504   505   506   507   508