Page 497 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 497

UU Kehutanan tahun 1999 mengatur tentang hutan adat sebagai
            hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat. UU
            Kehutanan itu juga menetapkan bahwa kawasan hutan yang telah ditunjuk
            dan atau ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
            berlaku sebelum berlakunya undang-undang ini dinyatakan tetap berlaku
            berdasarkan undang-undang ini. Peraturan hukum yang berlaku secara
            internasional maupun nasional yang menjamin keberadaan hak-hak atas
            tanah dari masyarakat adat sebagai bagian dari hak asasi manusia memang
            tidak bersifat mutlak. Artinya, hak tersebut dapat diambil asalkan melalui
            proses hukum yang adil dan tanpa diskriminasi. Namun demikian, UU
            Kehutanan tahun 1999 tidak memberi jaminan yang jelas bagi hak-hak
            masyarakat hukum adat, terutama yang melindungi hak masyarakat adat
            apabila wilayahnya ditunjuk dan atau ditetapkan berdasarkan peraturan
            perundang-undangan sebagai hutan tetap.
                 Tidak adanya perlindungan hukum yang jelas dari UU Kehutanan
            tahun 1999 tentu saja merugikan masyarakat adat. Hal ini dikarenakan
            di dalam Pasal 50 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 melarang
            sejumlah kegiatan dilakukan di kawasan hutan, seperti mengerjakan dan
            atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah,
            melanggar batas-batas suatu kawasan hutan di dalam radius atau jarak
            tertentu, menebang pohon, memanen atau memungut hasil hutan di dalam
            hutan tanpa memiliki hak atau surat ijin yang diterbitkan oleh pejabat yang
            berwewenang dan menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan yang
            tidak ditunjuk secara khusus untuk maksud tersebut oleh pejabat yang
            berwenang. Pelanggaran terhadap salah satu ketentuan ini akan berakibat
            dikenakannya hukuman penjara dan hukuman denda.
                 Adanya pengaturan dalam UU Kehutanan ini yang memasukkan
            hutan adat menjadi bagian dari hutan negara tentu saja membatasi hak
            dari masyarakat adat untuk mengakses hutan adatnya. Hal ini dikarenakan
            dengan adanya penunjukan dan atau penetapan suatu wilayah dapat
            menjadi hutan, jika wilayah hutan adat masyarakat adat ditunjuk dan atau
            ditetapkan sebagai wilayah hutan negara, maka dalam mengakses hutan
            adatnya, masyarakat adat terhadang ketentuan pasal 50, seperti tersebut
            di atas.








            466      Hubungan Keagrariaan
   492   493   494   495   496   497   498   499   500   501   502