Page 528 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 528

b.    Peraturan Bersama 4 Kementerian/Lembaga Negara, 2014
                   Pada penghujung pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
             tertanggal 17 Oktober 2014 keluar Peraturan Bersama Menteri Dalam
             Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Pekerjaan Umum, dan Kepala BPN
             RI, Nomor 79 Tahun 2014, Nomor PB.3/Menhut-11/2014, Nomor 17/
             PRT/M/2014, Nomor 8/SKB/X/2014, tentang Tata Cara Penyelesaian
             Penguasaan Tanah yang Berada dalam Kawasan Hutan. Peraturan
             Bersama ini merupakan salah satu upaya mngakhiri dualisme administrasi
             pertanahan di Indonesia. Peraturan bersama ini merupakan kesempatan
             baru terhadap pengakuan dan pendaftaran penguasaan dan pemilikan
             tanah oleh masyarakat (perorangan maupun masyarakat hukum adat)
             di dalam kawasan hutan. Kebijakan ini merupakan langkah maju sebab
             memungkinkan pendaftaran hak atas tanah (privat dan adat) di wilayah
             kehutanan yang semula dipahami bahwa kawasan hutan merupakan hutan
             negara.
                   Pemohon yang dapat mengajukan hak atas tanah di dalam kawasan
             hutan adalah “orang perorangan, pemerintah, badan sosial/keagamaan,
             masyarakat hukum adat yang memiliki bukti hak atas tanah datau
             bukti penguasaan atas tanah” (Pasal 1, poin 7). Masyarakat hukum adat
             secara tegas diakui sebagai subyek hukum yang legal. Pemerintah dalam
             melakukan penerbitan hak atas tanah berlaku prinsip sebagaimana tanah
             non-kawasan hutan, yakni pemberian hak (Pasal 1 poin 11) dan pengakuan
             hak (pasal 1 poin 12); ditambah dengan penegasan hak sebagaimana yang
             telah disebutkan dalam Pasal 60 ayat (2) Permenag Nomor 3 Tahun 1997.
                   Peraturan Bersama ini menempatkan Kepala BPN sebagai Ketua
             Tim Identifikasi Penguasaan Pemilikan, Penggunaan, dan pemanfaatan
             Tanah (IP4T) di dalam kawasan hutan, yang beranggotakan unsur dinas
             kabupaten/kota, unsur balai pemantapan kawasan hutan, unsur dinas/
             badan kabupaten/kota yang menangani urusan di bidang tata ruang, camat
             dan lurah setempat atau dengan sebutan lain (Pasal 2 ayat [2]). Dalam Pasal
             4 dinyatakan bahwa tugas utama Tim IP4T adalah untuk menghasilkan
             analisis berupa rekomendasi yang melampirkan peta P4T Non-kadastral
             dan Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (SP2FBT). Hasil
             analisa tersebut diserahkan kepada Kepala Kantor Wilayah atau Kepala
             Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota untuk diproses lebih lanjut.






                Pengakuan dan Perlindungan Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat...  497
   523   524   525   526   527   528   529   530   531   532   533