Page 630 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 630

pengukuran bidang tanah dituangkan dalam daftar isian 107 (Gambar
             Ukur). Dengan melakukan administrasi data lapangan yang meliputi
             pengisian dua formulir standar pendaftaran tanah itu, maka asas
             kontradiktur delimitasi dan asas spesialitas yang selalu dijunjung tinggi
             dan telah menjadi jiwa dalam pendaftaran tanah, telah terpenuhi dan
             diselenggarakan dengan baik. Hal ini berbeda dengan pendaftaran tanah
             selama ini, yang seolah-olah Kantah mengesampingkan penelitian data
             yuridis karena dalam pekerjaan SIM-TN telah dilakukan penyelidikan
             akan hal itu. Formulir standar yang wajib diisi dalam proses pendaftaran
             tanah telah diabaikan, dan pelaksana daripada pekerjaan itu bukan petugas
             yang mempunyai kualifikasi dalam bidang kadastral / pendaftaran tanah.
                   Hasil pekerjaan pegumpulan data yuridis dan data fisik dari lapangan
             tersebut selanjutnya dapat diolah sebagai bahan penerbitan SIM-TN yang
             dikeluarkan Pemko, dalam hal ini Camat setempat. Kedua data juga akan
             diarsip oleh Kantah untuk pendaftaran tanah apabila ada permohonan
             dari pemilik bidang tanah yang bersangkutan. Prosedur yang lebih
             praktis dan lebih menjamin kepastian hukum ini tentu akan membuat
             rasa kekhawatiran yang selama ini dialami Kantah akan berkurang, dan
             masyarakat akan memperoleh manfaat berupa kepraktisan dan kemudahan
             dalam pelayanan SIM-TN dan pendaftaran tanah.
                   Seiring dengan pelayanan SIM-TN dan pendaftaran tanah, perlu
             dibangun juga administrasi pertanahan yang baik di tingkat kelurahan.
             Dalam menyusun administrasi pertanahan di tingkat kelurahan ini
             perlu dipahami bersama bahwa data pendaftaran tanah hingga saat ini
             bukanlah data publik, sehingga dalam beberapa hal, data itu tidak dapat
             diakses publik atau tidak diperbolehkan keluar dari BPN. Dalam arti
             demikian, pihak kelurahan atau pihak lain yang berkepentingan dengan
             data itu kemungkinan hanya bisa mendapat data yang tidak berkategori/
             berskala rinci. Misalnya pada data yuridis, tidak semua hasil penyelidikan
             riwayat tanah bisa diinformasikan kepada publik, hanya data kesimpulan
             dari penyelidikan itu saja yang diperoleh. Demikian juga data hasil
             pengukuran rincikan bidang tanah dalam fraksi centimeter atau milimeter
             tidak diumumkan/diinformasikan ke publik. Peta-peta pendaftaran
             tanah sementara ini juga masih belum diatur untuk diakses publik.
             Memperhatikan hal-hal tersebut, dalam menyusun administrasi pertanahan
             di tingkat kelurahan hanya menggunakan data yang tidak begitu rinci,
             misalnya hanya berupa registrasi yang berisi subjek penguasaan/pemilikan,


                    Permasalahan Surat Ijin Memakai Tanah Negara Sebagai ‘Alas Hak‘...  599
   625   626   627   628   629   630   631   632   633   634   635