Page 627 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 627

pemula yang masih harus banyak belajar di bidang pengukuran dan
            pemetaan. Seiring dengan kemajuan teknologi digital yang sangat pesat
            perkembangannya, banyak lahir pula piranti ukur digital yang disertai
            software pengolahan data ukuran dan penyajiannya dalam bentuk peta.
            Kalau petugas ukur sudah berumur dan kemampuan dasarnya kurang
            dalam pengetahuan geometris pengukuran-pemetaan, akan sangat sulit
            untuk berkembang dan mengejar kemajuan teknologi. Padahal mereka
            ini sangat potensial pula untuk dilibatkan dalam pekerjaan non kadastral,
            seperti dalam pemetaan kawasan-kawasan guna menyajikan rencana tata
            ruang wilayah, dan pekerjaan pengukuran-pemetaan lainnya.


            3.   Proyeksi SIM-TN dalam Tata Administrasi Pertanahan, dan
                 Pengembangannya

                 Pelayanan pertanahan kepada masyarakat perlu dilaksanakan dengan
            tertib dan transparan, sehingga masyarakat terhindar dari kesulitan dan
            ketidakpuasan atas pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah. Tertib
            dalam arti bahwa pelayanan mengikuti prosedur dan mekanisme yang
            telah ditetapkan, dan transparan berarti proses pelayanan dapat diikuti
            perkembangannya oleh masyarakat, tanpa menyimpang dari ketentuan yang
            ada. Jika terdapat hambatan dalam melaksanakan prosedur atau mekanisme
            yang ada sehingga menimbulkan ketidakpuasan di tengah masyarakat, maka
            prosedur atau mekanisme tersebut perlu ditinjau kembali.
                 Setelah lebih dari satu dekade berjalan, prosedur SIM-TN dirasakan
            banyak kelemahannya. Oleh karena itu, Pemko telah merevisinya melalui
            Perda yang baru, yang mana SIM-TN diubah menjadi Surat Keterangan
            Penguasaan Fisik Bidang Tanah (SKFBT). Menurut Dr. Oloan Sitorus
            dari STPN yang memberi pengarahan pada diskusi mengenai SIM-TN
            di Kantah Kota Tarakan pada tanggal 21 Agustus 2014, bahwa konstitusi
            perlu diacu dalam mendefinisikan kata-kata ‘Ijin’ dan ‘Keterangan’. Hal itu
            untuk menghindari cacat hukum atas produk hukum. Dalam paparannya
            beliau menyampaikan bahwa menurut konstitusi, Hak Menguasai Negara
            bersifat publik. Dalam Pasal 2 UUPA, didefinisikan hubungan tenurial pada
            tanah, sehingga lahir istilah ’hak atas tanah’. Tetapi pada sumberdaya alam,
            semisal tambang dan hutan yang sifatnya mengeksplorasi, digunakan kata
            ’Ijin’. Dengan demikian, ’Hak’ dan ’Ijin’ mempunyai makna hubungan
            hukum yang berbeda. Pada pemakaian/pemanfaatan Tanah Negara,



            596      Hubungan Keagrariaan
   622   623   624   625   626   627   628   629   630   631   632