Page 320 - Keistimewaan Yogyakarta yang Diingat dan yang Dilupakan
P. 320

Lampiran

               Alam VIII mengirimkan kawat resmi kepada Soekarno dan Hatta
               atas berdirinya RI dan terpilihnya Soekarno-Hatta sebagai Presi-
               den dan Wakil Presiden. Pada 5 September 1945 secara resmi
               KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan Amanat/Maklumat yang
               berisi tentang pernyataan bergabungnya Kadipaten Paku
               Alaman kepada Republik Indonesia. Sejak saat itulah kerajaan
               terkecil pecahan Mataram ini bersama kasultanan menjadi dae-
               rah Istimewa Yogyakarta. Saat memunculkan amanat 5 Sep-
               tember, dua kerajaan di Yogyakarta masing-masing menglu-
               arkan amanat yang sama secara terpisah untuk menunjukkan
               eksisitensi masing-masing kerajaan. Lalu timbul gagasan untuk
               menyatukan amanat tersebut menjadi satu, dan muncullah
               amant kedua pada tangal 30 Oktober 1945. Lewat persetujuan
               Badan Pekerja Komite Nasional Daerah Yogyakarta, amanat
               dikeluarkan, dan kedua raja sepakat untuk menggabungkan Da-
               erah Kesultanan dan Kadipaten dengan nama Daerah Istimewa
               Yogyakarta.
                   Dalam Amanat 30 Oktober 1945 tentang pernyataan peng-
               gabungan diri ke republik dan keistimewaan, posisi sultan HB IX
               di atas dan PA VIII di bawahnya. Tidak jelas logika dan kesepa-
               katan yang muncl antara dua raja tersebut, akan tetapi tersirat
               akan struktur kekuasaan yang akan dibangun. Artinya PA VIII
               akan nderek dan Sultan sebagai pemimpinnya. Padahal jika meli-
               hat secara kritis, dua kerajaan yang ada di Yogyakarta adalah
               dua kerajaan yang independen, masing-masing memiliki struk-
               tur kekuasaan dan rakyat yang jelas. Akan tetapi saat muncul
               pernyataan, PA VIII tersubordinarsi di bawah sultan yang menyi-
               ratkan posisi yang akan dijalankan. Menurut Tamdaru, dua raja
               ini pernah bertemu sebelum pernyataan tersebut muncul, inti
               dari kesepakatan mereka berdua adalah, PA VIII menyerahkan
               wilayahnya kepada Sultan untuk dikelola, akan tetapi HB IX
               menolak dan mengajak untuk mengelola Yogyakarta secara ber-
               sama.  7
                   Setelah muncul amanat berdua, maka secara resmi PA VIII

               7  Wawancara dengan R.M. Tamdaru Tjakrawerdaya, di Yogyakarta.

                                                                  297
   315   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325