Page 315 - Keistimewaan Yogyakarta yang Diingat dan yang Dilupakan
P. 315

Keistimewan Yogyakarta
            seorang komandan Legium Paku Alaman terpilih sebagai peng-
            ganti mendiang KGPA Surya Sasraningrat. Pada 10 Oktober 1878
            (versi lain mengatakan tanggal 9 Oktober dan 15 Desember pada
            tahun yang sama), KPH Suryodilogo ditahtakan sebagai kepala
            Kadipaten Paku Alaman ke-5 dengan gelar Kanjeng Gusti Pange-
            ran Adipati Ario (KGPAA) Prabu Suryodilogo.
                Suryodilogo memegang amanah kerajaan dan kewajiban
            yang sangat berat. Terutama tugas-tugas untuk melunasi hu-
            tang-hutang yang ditinggalkan kepala Kadipaten Paku Alaman
            sebelumnya dan memelihara serta menegakkan ketertiban/ke-
            amanan di wilayah Paku Alaman. PA IV merubah wajah istana
            dan pola hidup yang berbedea, sekaligus meninggalkan banyak
            hutang kerajaan.
                Suryodilogo segera berhasil menunjukkan tanda-tanda ke-
            majuan yang baik dalam melaksanakan tugasnya, maka pada
            20 Maret 1883 beliau diperkenankan memakai gelar Kanjeng
            Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam V. Paku Alam V tidak
            banyak memberi apresiasi di bidang kesusastraan karena beliau
            memilih berkecimpung di bidang ekonomi. Kondisi perekonomian
            Paku Alaman yang carut-marut menyebabkan PA V memutus-
            kan untuk fokus pada perbaikan kesejahteraan. Keputusan PA V
            terbukti tepat, ia berhasil memulihkan perekonomian kerajaan
            menjadi normal kembali. Namun kesuksesannya diiringi oleh
            pukulan berat terhadap kadipaten, yaitu dibubarkannya ang-
            katan perang Paku Alaman pada tahun 1892.
                Sedikit berbeda dengan para pendahulunya, Paku Alam V
            merintis anggota keluarga Paku Alam untuk menuntut ilmu di
            sekolah-sekolah Belanda seperti di Sekolah Dokter Jawa. Bahkan
            mulai 1891 beliau mengirim beberapa putra dan cucunya ke
            Negeri Belanda (Nederland) untuk belajar di sana. Pemikiran
            beliau yang tidak kolot ini memunculkan beberapa hasil di anta-
            ranya ada anggota keluarga Paku Alam yang menjadi anggota
            Volksraad dan Raad van Indie (walaupun beliau tidak dapat meli-
            hat langsung hasilnya karena telah mangkat). Perubahan jalur
            pendidikan ini juga tidak bisa dilepaskan dari peran pendahulu-
            nya yang telah mengirim tenaga istana untuk sekolah keluar

            292
   310   311   312   313   314   315   316   317   318   319   320