Page 426 - Konstitusionalisme Agraria
P. 426

kompensasi dan ganti rugi kepada penduduk yang memiliki hak
            atas tanah atau yang menderita kerugian karena tanah tersebut
            dipergunakan untuk kepentingan umum. Hal serupa dilanjutkan dan
            juga terdapat dalam Konsepsi Konstitusional Penguasaan Negara.
                 Dalam kaitannya dengan pihak swasta, prinsip Domein
            Verklaring membenarkan tindakan penguasa untuk melakukan
            penjualan dan penyewaan tanah, sebagaimana dilakukan oleh subjek
            hukum perdata. Hal itu tidak berlaku dalam konsepsi Hak Menguasai
            Negara dan Konsepsi Konstitusional Penguasaan Negara sebab negara
            dalam konsepsi ini tidak diperlakukan sebagai subjek hukum perdata,
            melainkan sebagai subjek hukum publik yang tidak diperbolehkan
            melakukan hubungan hukum menjual atau menyewa tanah. Bila
            pihak swasta hendak mempergunakan tanah yang dikuasai oleh
            negara, maka negara melalui pemerintah dapat memberikan konsesi
            dan lisensi kepada pihak swasta untuk berusaha.
                 Pada masa kolonial sebagai konsekuensi dari prinsip Domein
            Verklaring, status tanah dibagi dalam dua yaitu tanah negara
            bebas (vrij landsdomein) dan tanah negara tidak bebas (onvrij
            landsdomein). Hanya tanah negara bebas (vrij landsdomein) yang
            dianggap sebagai tanah milik negara dan bisa diusahakan sendiri atau
            diberikan kepada pihak swasta. Sedangkan tanah negara tidak bebas
            (onvrij landsdomein) adalah tanah yang sudah ada hak kepemilikan
            di atasnya. Dualisme tersebut diatasi dalam konsepsi Hak Menguasai
            Negara yang memposisikan negara sebagai penguasa tertinggi atas
            semua hak atas tanah. Semua hubungan hukum yang berkaitan
            dengan tanah diserap dan pada tingkatan tertinggi berada di bawah
            kuasa negara. Dalam kaitannya dengan hal ini, penguasaan tanah
            ulayat oleh masyarakat adat pun terserap ke dalam penguasaan
            negara. Oleh karenanya, negara dapat menguasakan pelaksanaan
            hak menguasai negara kepada masyarakat hukum adat.  Meskipun
                                                                72
            demikian, keberadaan hak-hak yang bersifat komersial juga


                 72 Baca Pasal 2 ayat (4) UUPA yang berbunyi: Hak menguasai dari Negara tersebut
            di atas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah Swatantra dan masyarakat-
            masyarakat hukum adat, sekadar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan
            nasional, menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah.

                                        Konstitusionalisme dan Reforma Agraria     395
   421   422   423   424   425   426   427   428   429   430   431