Page 16 - Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat (Hasil Penelitian Strategis PPPM STPN 2014)
P. 16

PPPM - STPN Yogyakarta              Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat

 bahwa dengan menjunjung asas equality before the law , tiap-tiap   telah  mengalokasikannya  untuk  di  redistribusikan  kepada
 1
 bagian dari NKRI akan mendapatkan perlakuan yang sama dalam   masyarakat  serta  penggunaan  lain  yang  disesuaikan  dengan  tata
 pengelolaan pertanahan khususnya.   ruang  wilayah  setempat.  Hal  ini  dikukuhkan  melalui  Keputusan
 Pulau Lembeh adalah sebuah pulau yang masuk dalam wilayah   Menteri Dalam Negeri No SK.170/DJA/1984 tanggal 5 September
 administrasi  Kota  Bitung  Propinsi  Sulawesi  Utara.  Secara   1984 yang menegaskan bahwa tanah Pulau Lembeh seluas 5.040
 administratif pulau ini terbagi dalam 2 kecamatan, yaitu Kecamatan   Ha  adalah  tanah  yang  dikuasai  langsung  oleh  Negara,  yang
 Lembeh Utara dan Lembeh Selatan. Pulau ini juga terkenal karena   selanjutnya menjadi objek redistribusi dalam rangka pelaksanaan
 menjadi  alternatif  utama  lokasi  diving  selain  Bunaken  dengan   Landreform  dan  untuk  keperluan  Instansi  serta  pembangunan
 keindahan bawah laut yang luar biasa. Pulau ini sangat potensial,   lainnya.  Dalam  SK  Mendagri  tersebut,  peruntukan  penggunaan

 letaknya  yang  strategis  di  bibir  Samudra  Pasifik  membuatnya   Pulau Lembeh ditentukan sebagai berikut:
 menjadi tujuan investasi di masa mendatang. Pulau ini menawarkan
 keindahan  alam  laut  yang  menarik  banyak  wisatawan  asing  ke   1.  Seluas 2.740 Ha. sebagai objek redistribusi dalam rangka
 Sulawesi. Sehingga nilai investasi dari bidang pariwisata menjadi   pelaksanaan  Landreform  yang  selanjutnya  dapat  di-
 unggulan yang menopang perekonomian masyarakat sekitar.  redistribusi/diberikan Hak Milik kepada petani penggarap
 Keindahan panorama alam Pulau Lembeh ternyata menyimpan   sesuai  dengan  ketentuan  dalam  Peraturan  Pemerintah
 potensi konflik pertanahan yang besar di wilayah Sulawesi Utara.   Nomor 224 Tahun 1961, dan sisanya diperuntukkan bagi:

 Permasalahan pertanahan di pulau ini sudah sangat terkenal karena   2.  Daerah Hutan Lindung seluas 1.000 Ha
 tidak kunjung terselesaikan. Entah apa yang menjadi penghambat-  3.  Sarana Umum seluas 150 Ha
 nya, namun permasalahan yang ada cenderung terkatung-katung   4.  Pemukiman seluas 150 Ha
 dan  tak  berujung  sehingga  membawa  imbas  terhadap  program-  5.  Penyediaan Tanah Kritis Pantai seluas 200 Ha
 program pemerintah lainnya yang turut tersendat atas wilayah ini.   6.  Untuk Keluarga Xaverius Dotulong seluas 300 Ha
 Khususnya  yang  terkait  dengan  kepemilikan  tanah  di  daerah   7.  Perkembangan Kota Administratif Bitung seluas 500 Ha
 tersebut.         Dalam  SK  Mendagri  tersebut  juga  menginstruksikan  kepada
 Persoalan  pertanahan  di  Pulau  Lembeh  sudah  ada  sejak   Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Utara bersama-sama
 bebarapa tahun silam. Dimulai dengan adanya klaim sepihak dari   dengan Panitia Pertimbangan Landreform Propinsi Sulawesi Utara,

 sekelompok orang yang menyatakan diri sebagai ahli waris Xaverius   Bupati Kepala Daerah Tingkat II Minahasa, Walikota Administratif
 Dotulong  yang  mengaku  sebagai  pemilik  seluruh  tanah  di  Pulau   Bitung untuk:
 Lembeh. Meskipun banyak fakta yang diajukan untuk memperkuat
 kedudukan  mereka  sebagai  bukti  kepemilikan  tanah,  namun   1.  Menetapkan Peta Lokasi Peruntukan Penggunaan Tanah Pulau
 kenyataan  pemerintah  menyatakan  bahwa  tanah-tanah  di  Pulau   Lembeh yang sebenarnya;
 Lembeh sebagai tanah negara. Dan atas tanah negara ini, pemerintah   2.  Memproses penyelesaiannya atas tanah sebagaimana dimaksud
                   di atas sesuai dengan peraturan dan tata cara yang berlaku serta
 1   Esmi  Warassih.  2005.  Pranata  Hukum  Sebuah  Telaah  Sosiologis.  Semarang:
 Suryandaru Utama: Hal 35.

 14                                                                           15
   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21