Page 20 - Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat (Hasil Penelitian Strategis PPPM STPN 2014)
P. 20

PPPM - STPN Yogyakarta              Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat

 Adapun  metode  yang  digunakan  penulis  dalam  penelitian   pertentangan antara dua pihak atau lebih. Konflik ini muncul karena
 diarahkan  untuk  mendapatkan  data  dan  mengolahnya  sehingga   adanya masalah, yaitu terdapatnya kesenjangan antara das sollen
 dapat  dianalisis  untuk  menjawab  permasalahan  yang  diangkat.   dan  das  sein,  atau  karena  adanya  perbedaan  antara  hal  yang
 Penelitian  ini  termasuk  dalam  penelitian  deskriptif  analisis  yang   diinginkan  dengan  hal  yang  terjadi.   Demikian  juga  yang  terjadi
                                                   3
 bermaksud  untuk  memberikan  gambaran  sekaligus  menganalisis   dalam kebijakan pertanahan yang diterapkan oleh pemerintah di
 terhadap  kebijakan  pemerintah  yang  diterapkan  terhadap   Pulau Lembeh.
 permasalahan  Pulau  Lembeh  baik  oleh  Pemerintah  Provinsi   Permasalahan pertanahan yang ada di Pulau Lembeh melibat-
 Sulawesi Utara, Kanwil BPN Propinsi Sulawesi Utara, Pemerintah   kan berbagai aktor yang masing-masing saling menunjukkan klaim
 Kota Bitung, Kantah Kota Bitung, dan dasar klaim hak atas tanah   dan kebijakan yang berbeda atas wilayah yang sama. Selain adanya

 masyarakat  baik  ahli  waris  X.  Dotulong  maupun  masyarakat   unsur tanah adat yang disinyalir berada di wilayah tersebut, adanya
 lainnya. Sedangkan ditinjau dari metodenya, penelitian ini termasuk   otoritas  negara  baik  melalui  Kementerian  Dalam  Negeri,  Pemda
 penelitian  kualitatif.  Adapun  jenis  data  yang  akan  dipergunakan   Propinsi dan Pemkot serta Kantor Pertanahan baik Wilayah Propinsi
 dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data   dan  Kabupaten  Bitung  memiliki  argumen  yang  berbeda  untuk
 primer terdiri dari hasil wawancara dan observasi lapangan yang   mengatur pertanahan di pulau tersebut. Untuk dapat mengurainya
 dilakukan.  Sedangkan  data  sekunder  yang  berupa  bahan  hukum   satu persatu kiranya penting bagi kita memahami segala sesuatunya
 primer meliputi peraturan perundang-undangan terkait (UU No. 5   secara runtut dan komprehensif.

 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, UU No.   Pembahasan  masalah  pertanahan  di  Pulau  Lembeh,  sangat
 26  Tahun  2007  tentang  Penataan  Ruang,  Perpres  No.  88  Tahun   kental  dengan  klaim  tanah  adat  dan  bekas  tanah  pertikelir.
 2011 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Sulawesi, Surat Keputusan   Pengakuan ini disampaikan oleh para pihak khususnya ahli waris
 Mendagri  Nomor  SK.170/DJA/1984,  dan  Surat  Kepala  Kantor   Xaverius Dotulong yang dengan berbagai upayanya berusaha untuk
 Wilayah  Badan  Pertanahan  Nasional  (Kakanwil  BPN)  Provinsi   menguasai sebagian besar tanah di Pulau Lembeh yang dianggap
 Sulawesi Utara Nomor 570 – 944 tertanggal 11 Oktober 2005 perihal   merupakan warisan dari leluhurnya.
 Masalah Tanah Pulau Lembeh. Bahan hukum sekunder terdiri dari   Hukum  tanah  adat  menurut  B.F.  Sihombing  dalam  Supriadi
 berbagai naskah, artikel, maupun buku-buku penunjang termasuk   adalah hak kepemilikan dan penguasaan sebidang tanah yang hidup
 juga  bahan  hukum  tersier  lainnya.  Secara  umum,    pengumpulan   pada masyarakat adat pada masa lampau dan masa kini serta ada

 data dilakukan melalui  wawancara, observasi, serta dengan studi   yang  tidak  mempunyai  bukti-bukti  kepemilikan  secara  autentik
 kepustakaan.  atau tertulis, kemudian ada pula yang didasarkan atas pengakuan
               dan tidak tertulis.  Tanah ini memiliki ciri yaitu adalah tanah-tanah
                                4
 B.  Penguasaan Pertanahan di Pulau Lembeh  yang  dimiliki  dan  dikuasai  oleh  seseorang  dan  atau  sekelompok
               masyarakat adat yang memiliki dan menguasai serta menggarap,
 Dewasa ini berbagai macam konflik semakin marak dan berkembang
 di  Indonesia,  dan  sebagian  besar  bersumber  dari  tanah.  Konflik   3   Bambang  Sutiyoso,  2008.  Hukum  Arbitrase  dan  Alternatif  Penyelesaian  Sengketa.
 atau sengketa merupakan aktualisasi dari suatu perbedaan dan atau   Yogyakarta: Gama Media. Hal:2.
               4   Supriadi. 2007. Hukum Agraria. Jakarta: Sinar Grafika. Hal:9.

 18                                                                           19
   15   16   17   18   19   20   21   22   23   24   25