Page 25 - Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat (Hasil Penelitian Strategis PPPM STPN 2014)
P. 25

PPPM - STPN Yogyakarta                                                                                             Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat

            dari  tanah  eigendom  lainnya,  ialah  adanya  hak-hak  kenegaraan,                              Selain tanah partikelir maka bagi tanah-tanah eigendom yang
            sebagai misalnya hak untuk mengangkat/memberhentikan kepala-                                  luasnya  dari  10  bouw  perlu  diperlakukan  juga  sebagai  tanah
            kepala kampung/desa/umum yang diberi kekuasaan dan kewajiban                                  partikelir,  sehingga  dapat  dihapuskan  menurut  ketentuan-
            kepolisian, hak menuntut kerja paksa (rodi) atau uang pengganti                               ketentuan  dalam  Undang  undang  nomor  1  tahun  1958.  Dengan
            rodi  dari  penduduk  yang  berdiam  di  tanah-tanah  itu  dan  untuk                         demikian,  maka  pemilik-pemilik  tanah  eigendom  yang  luas
            mengadakan pungutan-pungutan, baik berupa uang maupun hasil                                   walaupun  bukan  katagori  tanah  pertikelir  dengan  alasan  tidak
            tanah, dari penduduk yang mempunyai “hak usaha”. Hak demikian                                 adanya  hak-hak  pertuanan,  juga  terkena  oleh  Undang-undang
            itu  dahulu  disebut  “landheerlijke  rechten”  dan  didalam  undang-                         Nomor  1  Tahun  1958.  Pertimbangan-pertimbangan  itulah  pula,
            undang ini disebut “hak-hak pertuanan”. Di dalam ketatanegaraan                               yang  mendorong  Pemerintah  Belanda  untuk  secara  insidentil

            yang  modern  hak-hak  pertuanan  itu  tidak  dibenarkan,  dan                                mengadakan pembelian kembali dan mencantumkan dalam ayat (1)
            seharusnya  hanya  ada  pada  pemerintah  (Negara).  Hak-hak                                  Pasal  62  Regeringsreglement  (S.1855  –  2)  larangan  bagi  para
            pertuanan  itu  ada  yang  sudah  diatur  dengan  peraturan  undang-                          Gubernur Jenderal untuk menjual tanah-tanah yang luas kepada
            undang misalnya yang mengenai tanah-tanah partikelir di sebelah                               perseorangan.
            Barat Cimanuk dengan ordonansi tanggal 3 Agustus 1912 (S. 1912                                    Demikian juga mengenai tanah-tanah partikelir di Sulawesi ada
            – 422). Di tanah-tanah partikelir lainnya, hak-hak itu didasarkan                             berapa  ketentuan  dalam  Bijblad  3909.  Mengenai  tanah-tanah
            pada  adat  setempat.  Lembaga  tanah  partikelir  yang  memberikan                           lainnya, yaitu yang terletak di sebelah Timur Cimanuk, tidak ada

            hak-hak  istimewa  kepada  pemiliknya  (“tuan-tuan  tanah”)                                   peraturan  umumnya  karena  keadaannya  berbeda  dengan  tanah-
            sebagaimana yang diuraikan diatas itu, seakan-akan menimbulkan                                tanah  partikelir  disebelah  Barat  Cimanuk  dan  kondisi  masing-
            negara-negara kecil di dalam negara kita sebagai negara modern.                               masing pun berbeda satu dengan yang lain. Demikianlah maka di
            Apalagi  tanah-tanah  partikelir  itu  ternyata  selalu  merupakan                            tanah-tanah  partikelir  tersebut  hingga  segala  sesuatunya  masih
            sumber kesulitan, kegaduhan dan sumber  konflik, sebagai akibat                               diatur menurut adat setempat.
            kurangnya perhatian tuan-tuan tanah terhadap penduduk. Keadaan                                    Walaupun  sejak  tahun  1810  telah  terjadi  pembelian  kembali,
            penghidupan penduduk yang menyedihkan itu disebabkan, karena                                  dan  sejak  tahun  1855  sebagaimana  tersebut  diatas  telah  ada
            dalam segala hal tuan-tuan tanah itu selalu berada dalam kedudukan                            peraturan  yang  melarang  timbulnya  tanah-tanah  partikelir  baru,
            yang lebih kuat.                                                                              akan tetapi barulah sejak 1910, atas desakan baik dari kalangan-

                Sikap  tuan-tuan  tanah  dalam  menggunakan  hak-hak  dan                                 kalangan diluar maupun di dalam Parlemen Belanda, dilaksanakan
            tanahnya yang menyebabkan terhambatnya kemajuan penduduk,                                     usaha  pengembalian  itu  secara  teratur.  Berangsur-angsur  telah
            jelas tidak membawa manfaat bagi masyarakat dan bertentangan                                  banyak  tanah-tanah  partikelir  yang  dapat  dibeli  kembali;
            dengan  azas  dasar  keadilan  sosial  yang  dijunjung  tinggi  oleh                          diantaranya  tahun  1912  dan  1931  saja  ada  tanah  seluas  456.709
            masyarakat dan Negara. Atas dasar hal-hal diatas itu maka sudah                               hektar. Berhubung dengan adanya penghematan, diantara 1931 dan
            seharusnya, demi untuk kepentingan umum tanah-tanah partikelir;                               1936 tidak diadakan pembelian lagi.
            yang  pada  saat  itu  sebagian  besar  berada  di  Jawa  Barat,  Jawa                            Pemerintah  Republik  Indonesia  Serikat  dan  kemudian

            Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi segera dihapuskan.                                            Pemerintah  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  bukan  saja

            24                                                                                                                                                           25
   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30