Page 22 - Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat (Hasil Penelitian Strategis PPPM STPN 2014)
P. 22

PPPM - STPN Yogyakarta              Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat

 mengerjakan secara tetap maupun berpindah-pindah dan kemudian   (2)  Tanah Kalakeran Negeri atau Desa
 secara  turun  temurun  masih  berada  di  lokasi  tersebut  dan   Tana’ kalakeran oem banoea (tanah kalakeran negeri atau
 mempunyai  tanda-tanda  fisik  berupa  sawah,  ladang,  hutan  dan   desa)  yang  pada  mulanya  dirombak  dan  dikerjakan  oleh
 simbol-simbol  berupa  makam,  patung,  rumah  adat,  dan  bahasa   sesuatu negeri atau desa, misalnya untuk tanaman kopi;
 daerah yang ada di Negara Republik Indonesia. Dengan kata lain,   (3)  Tanah Kalakeran Keluarga
 untuk  dapat  disebut  sebagai  tanah  adat  maka  ada  seperangkat   Tana’  oen  taranak  (tanah  kalakeran  keluarga)  yang
 fasilitas  umum  yang  layaknya  ada  dalam  sebuah  kehidupan   dirombak atau dibeli oleh seorang kepala keluarga (Dotu
 komunitas adat.       atau Datuk) dan sampai turun temurunnya belum pernah


 1.  Tanah Adat di Sulawesi Utara  dibagi-bagi. 7

 Status  tanah  di  Kabupaten  Minahasa  didominasi  oleh  tanah   Tanah  kalakeran  desa  adalah  tanah  kalakeran  yang  dimiliki
 milik adat atau lebih populer dengan istilah tanah pasini dan tanah   desa  diperuntukkan  bagi    kegiatan–kegiatan  desa  untuk
 kalakeran. Diperkirakan luas tanah pasini dan kalakeran tersebut   kepentingan  masyarakat  adat  di  desa  tersebut.  Sedangkan
 mencapai 80% dari luas wilayah kabupaten Minahasa, yaitu sekitar   tanah kalakeran keluarga atau famili adalah tanah dengan hak
 335.136 ha dan sisanya kurang lebih 83.784 ha adalah tanah negara   ulayat  yang  diberikan  kepala  suku  pada  seseorang  karena  ia
 yang terdiri dari hutan lindung, hutan produksi, ex hak barat (HGU)   yang  pertama  kali  membuka  tanah  tersebut  untuk  kemudian

 dan sebagainya. 5  dapat diwariskan pada keturunannya. 8
 Menurut L. Adam, tanah-tanah adat yang terdapat di Minahasa      Terhadap tanah-tanah kalakeran tersebut, tidak dilakukan
 antara lain: 6    pendaftaran haknya secara kadastral tetapi hanya didaftar pada
                   daftar tanah yang ada di desa (negeri). Demikian pula ada tanah
 a.  Tanah Kalakeran
                   yang terdaftar yang menjadi milik walak, hak tersebut disebut
 Ada beberapa macam tanah Kalakeran, yaitu:
                   Tanah Hak Adat.
 (1)  Tanah Kalakeran Distrik
 Tana’  kalakeran  oem  balak  (tanah  kalakeran  pakasaan   b.  Tanah Pasini
 atau distrik) yang contohnya terdapat di Wenang (sekarang   Tanah Pasini yang dalam masyarakat di Kabupaten Minahasa

 Manado),  tanah  kalakeran  distrik  Tomohon,  Langowan,   dikenal  sebagai  hak  perorangan  atas  tanah,  pada  mulanya
 Kakas, Tondano dan lain-lain;  kepemilikan  tanah  adalah  secara  bersama,  jadi  merupakan
                   tanah kalakeran yang diberikan kepada tiap-tiap awu (keluarga)
                   untuk  menjadi  tanggung  jawabnya.  Jika  hal  ini  terjadi  maka
                   berakhirlah kedudukan tanah kalakeran sebagai milik bersama


               7   Sri Rahayu Soeripto, Penggunaan Tanah Adat untuk Kepentingan Pembangunan di
 5   Kumaunang, Pola Penguasaan, Pemilikan, dan Penggunaan Tanah Secara Tradisional   Kecamatan  Langowan  Kabupaten  Minahasa  Provinsi  Sulawesi  Utara,  Universitas
 Daerah Sulawesi Utara, Bina Aksara, Jakarta, 1994, hal. 72  Diponegoro, Semarang, 2007, hal 29.
 6   L. Adam, Adat Istiadat Suku Minahasa, Bharatara, Jakarta, 1982, hal. 65  8   L . Adam, Op.cit, hal. 60

 20                                                                           21
   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27