Page 24 - Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat (Hasil Penelitian Strategis PPPM STPN 2014)
P. 24

PPPM - STPN Yogyakarta              Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat

 menjadi bagian-bagian milik perorangan atau dikenal dengan   sehingga  jika  tanah  adat  tersebut  masih  dalam  wujud  tanah
 hak tanah Pasini. 9  kalakeran (tanah milik adat bersama) maka sulit untuk dilakukan
               konversinya. Masih banyak tanah milik adat baik tanah kalakeran
 Ketentuan  hukum  formal  yang  berlaku  di  Indonesia  melalui   maupun tanah pasini yang belum terdaftar di register desa sehingga
 Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria   hal ini menyulitkan dalam pembuktian alas hak. Dalam Peraturan
 dan Pengelolaan Sumber Daya Alam juga mengakui, menghormati,   Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1975 tentang Pendaftaran
 dan melindungi hak masyarakat hukum adat dan keragaman budaya   Hak Atas Tanah Kepunyaan Bersama dan Pemilikan Bagian-Bagian
 bangsa atas sumberdaya agraria/sumberdaya alam. Hal ini berarti   Bangunan  Yang  Ada  di  Atasnya  Serta  Penerbitan  Sertipikatnya,
 atas tanah adat, akan diakui keberadaannya sepanjang masih ada   terdapat  keharusan  Pendaftaran  Hak  Atas  Tanah  kepunyaan

 dan  tidak  bertentangan  dengan  kepentingan  negara  Indonesia.   bersama,  tapi  pada  kenyataannya  peraturan  ini  tidak  pernah
 Setelah berlakunya UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar   dilaksanakan.  Akibatnya sampai saat ini data yang pasti tentang
                             10
 Pokok-pokok Agraria, atas tanah-tanah hak adat berlaku ketentuan   obyek dan luas tanah kalakeran belum ada.
 konversi.  Menurut  Pasal  II  ayat  (1)  Bagian  Kedua  Ketentuan-
 ketentuan Konversi UUPA, dinyatakan bahwa:   2.  Tanah Partikelir
                   Tanah partikelir adalah tanah-tanah eigendom yang mempunyai
 “Hak-hak  atas  tanah  yang  memberi  wewenang  sebagaimana  atau
 mirip dengan hak yang dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) seperti yang   sifat  dan  corak  istimewa.  Yaitu  adanya  hak-hak  pertuanan  pada
 disebut  dengan  nama  sebagai  dibawah,  yang  ada  pada  mulai   pemiliknya  yang  bersifat  kenegaraan.  Selain  istimewa  dan
 berlakunya undang-undang ini, yaitu: hak agrarisch eigendom, milik,   mempunyai hak pertuanan, tanah partikelir dapat dibedakan: 11
 yasan, andarbeni, hak atas druwe, hak atas druwe desa, pesini, grand
 Sultan,  landerinjbezitrecht,  altijddurende  erfpacht,  hak  usaha  atas   a)  Tanah partikelir yang diduduki oleh orang-orang timur asing
 bekas  tanah  partikelir  dan  hak-hak  lain  dengan  nama  apapun  juga   disebut tanah-tanah Tionghoa;
 yang akan ditegaskan lebih lanjut oleh Menteri Agraria, sejak mulai   b)  Tanah partikelir yang diduduki oleh rakyat asli disebut tanah-
 berlakunya  Undang-undang  ini  menjadi  hak  milik  tersebut  dalam
 Pasal 20 ayat (1), kecuali jika yang mempunyainya tidak memenuhi   tanah usaha;
 syarat sebagai yang tersebut dalam Pasal 21”.  c)  Tanah  partikelir  yang  dikuasai  oleh  tuan  tanah  yang  disebut
                   tanah kongsi.
 Dari ketentuan ini jelas kiranya, bahwa tanah-tanah tersebut

 akan  tetap  ada  dan  dapat  dikonversi  menjadi  hak  milik.  Tanah-  Pada  awal  mulanya  (sebelum  diadakan  pengambilan  tanah-
 tanah Kalakeran Keluarga yang subyeknya memenuhi syarat untuk   tanah itu kepada negara) luasnya sampai sejumlah 1.150.000 ha,
 mempunyai Hak Milik maka dapat dikonversi menjadi Hak Milik.   terutama terletak di Jawa Barat. Yang membedakan tanah partikelir
 Pada  umumnya  tanah  adat  Minahasa  yang  dikonversi  sesuai
 hak atas tanah menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun   10   Tjitra  D.P.  Lukum,  Pemanfaatan  Tanah  Kalakeran  Famili/Keluarga  Dalam
 1960  merupakan  tanah  pasini  (tanah  milik  adat  perorangan)   Meningkatkan  Kesejahteraan  Keluarga  di  Desa  Taraitak  Kecamatan  Langowan
                   Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara,  Universitas Diponegoro, Semarang,
                   2003, hal. 89
 9   Ibid, hal. 32-33  11   Ibid. Hal 20.

 22                                                                           23
   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29