Page 129 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 129

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda

                Pada tahun 1996, STPN kemudian menyelenggarakan Pro-
            gram Diploma I Pengukuran dan Pemetaan Kadastral (DI PPK)
            berdasarkan Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No.
            12 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Program
            Diploma I Pengukuran dan Pemetaan Kadastral di Sekolah Tinggi
            Pertanahan Nasional Yogyakarta. Awalnya, program ini diseleng-
            garakan untuk menghasilkan Asisten Surveyor Kadastral yang
            bertugas untuk membantu tugas administrasi pertanahan. Pada
            saat itu, suasana kebatinan penyelenggaraan administrasi
            pertanahan berlangsung sesuai semangat zaman yang serba akan
            melakukan swastanisasi dan privatisasi di dalam berbagai kehi-
            dupan bernegara. Dalam pada itu pulalah lahir keinginan untuk
            “menswastakan” sebagian tugas pendaftaran tanah, dalam hal
            ini tugas pengukurannya. Tugas pengukuran dilakukan oleh
            profesi Surveyor Kadastral, yang dalam melakukan tugasnya akan
            dibantu oleh Asisten Surveyor Kadastral. Boleh dikatakan,  atmosfir
            pendirian Program DI PPK STPN adalah ingin menghasilkan
            Asisten Surveyor ‘secara cepat’.
                Sebagai salah satu staf STPN yang ikut  dalam proses awal
            pendirian Program DI PPK,  penulis merasakan suasana kebatinan
            yang serba ingin segera memenuhi tuntutan tertentu. Sejak dari
            Seminar di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada awal tahun
            1996, 16  sampai pada Rapat-rapat Tim Pembina yang dipimpin

                16  Penulis (OS) bersama Ir. Senthot Sudirman, M.S. ditugaskan Ketua
            STPN untuk mendampingi Bapak Drs. Wahyudi (Pembantu Ketua II STPN)
            untuk mempresentasikan makalah Ketua STPN yang pada intinya ingin mengatakan
            ‘siap’ untuk menyelenggarakan Program DI PPK di STPN. Sesungguhnya,
            Ketua STPN pada waktu itu Dr. Ir. S.B. Silalahi. M.S. ingin secara langsung
            mempresentasikan makalah yang dibuat dari STPN, namun secara tiba-tiba beliau
            sakit keras dan harus dirawat inap di Rumah Sakit Bethesda Jogjakarta, sehingga

            116
   124   125   126   127   128   129   130   131   132   133   134