Page 194 - Perjuangan Landreform Masyarakat Perkebunan: Partisipasi Politik, Klaim dan Konflik Agraria
P. 194
182 Tri Chandra Aprianto
kaum buruh yang ada di bawah kekuasaannya supaya keluar dari
Sarbupri dan masuk Perbupri. Akibat dari tindakan dari S. Warel
yang sangat provokatif ini menimbulkan kekeruhan di kalangan
seluruh kaum buruh perkebunan W tentu saja
Dewan Pimpinan W merupakan gangguan
baik bagi keamanan kerja maupun keamanan dalam arti yang lebih
luas. Dengan alasan ini maka Dewan Pimpinan Ranting Wonojati
menuntut administratur Wonojati, supaja S. Warel dipindah ke lain
tempat. Tuntutan ini disertai dengan segala konsekuensinya kalau-
kalau tuntutan ini tidak akan membawa hasil yang memuaskan. 105
Tentu saja gerakan yang dilakukan oleh Sarbupri ini bukan
tanpa tantangan. Tantangan itu tidak saja datang dari kalangan
kaum pemodal besar asing sebagaimana telah digambarkan di
atas. Akan tetapi juga datang dari kekuatan yang merasa dirugikan
oleh gerakan Sarbupri. Menurut Warso Soekarto 106 setidaknya ada
tiga kelompok yang secara tegas-tegas bereaksi atas gerakan yang
dibangun oleh Sarbupri. Pertama, kelompok yang secara sadar
“peng y mew kaum
di Indonesia. Kedua, kaum koruptor dan penjual nama. Ketiga,
kelompok yang kurang mengerti akan keberadaan pentingnya
organisasi. Secara gencar ketiga kekuatan ini tak henti-hentinya
bergerak di daerah Jember, Lumajang, Kediri, Bogor, Sumatera
Utar dan Secara spesiik Sar Jember
berupaya keras guna mengatasi gerakan yang ingin menghancurkan
kekuatan buruh perkebunan yang tergabung dalam Sarbupri yang
dipelopori oleh R.S. Atmadja.
Sementara itu pihak perusahaan perkebunan sendiri berusaha
untuk mengurangi dominasi Sarbupri. Pihak perusahaan melakukan
105 Warta Sarbupri No. 6 tahun ke IV 15 Djuni 1953, Kumandang daerah,
hlm. 122.
106 Warta Sarbupri No. 6 tahun ke IV 15 Djuni 1953, Bahan Diskusi, Masalah
Reaksi, hlm. 14-5.

