Page 44 - Hukum Ketenagakerjaan
P. 44

hubungan  yang  terbentuk  antara  pelaku  proses  produksi  barang
                  dan  jasa.  Hal  tersebut  diarahkan  untuk  menumbuhkan  dan  me­
                  ngembangkan hubungan yang harmonis atas dasar kemitraan yang
                  sejajar serta terpadu di antara para pelaku proses barang dan jasa.
                  Kemitraan dalam HIP lebih menekankan pada kemitraan di tingkat
                  perusahaan atau pekerja/buruh dan pengusaha yang dilaksanakan
                  dalam  bentuk  proses  produksi.  Artinya,  pekerja/buruh  dan  peng­
                  usaha harus bekerja sama sebaik­baiknya dalam mencapai target
                  produksi yang telah ditentukan. Kondisi tersebut membuat pekerja/
                  buruh juga dapat ikut menikmati hasil yang dicapai oleh perusaha­
                  an sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja/buruh
                  dan keluarganya.

                  Dalam melaksanakan HIP, setiap pekerja/buruh diarahkan untuk
                  mem punyai  sikap ikut  memiliki serta  mengembangkan  maupun

                  meme lihara dan mempertahankan kelangsungan usaha. HIP dilak­
                  sanakan melalui sarana serikat pekerja/buruh, organisasi pengu saha,
                  lembaga kerja sama bipartit, lembaga kerja sama tripartit, peraturan
                  perusahaan, kesepakatan kerja bersama, penyelesaian perselisihan
                  industrial, serta penyuluhan dan permasyarakatan HIP. 38
                  Secara substantif, perubahan­perubahan yang mendasar dalam UU
                  No. 25 Tahun 1997 adalah sejumlah peraturan yang baru maupun
                  penajaman atas pengaturan yang lama. Perubahan tersebut ber­
                  tujuan  untuk  menciptakan  HIP sehat,  dinamis, dan  menciptakan
                  hubungan  industrial yang harmonis berdasarkan  Pancasila.
                  Mengenai  hubungan  kerja,  UU No. 25 Tahun  1997 membahas
                  bahwa  hubungan  kerja  terjadi  karena  adanya  perjanjian  kerja
                  antara pengusaha dan pekerja/buruh, baik lisan maupun tertulis.
                  Syarat­syarat  pekerjaan  yang dibuat dengan perjanjian kerja
                  secara  tertulis yang  harus  sesuai dengan  peraturan  perundang­
                  undangan  yang berlaku,  antara  lain pekerjaan  untuk waktu
                  tertentu,  antarkerja,  antardaerah,  antarnegara,  dan  perjanjian
                  antarlaut. Bagi pekerja/buruh sektor formal dalam hubungan kerja
                  waktu tidak tertentu yang menggunakan perjanjian kerja tertulis

              38  Pasal 26 UU No. 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan.


              20   Hukum Ketenagakerjaan
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48