Page 41 - Hukum Ketenagakerjaan
P. 41

perkembangan  di sektor­sektor  industri, termasuk pariwisata,  telah
                   turut memperluas penciptaan kesempatan kerja. 30
                       Suatu program Proyek Padat Karya juga dibuat pada era peme­
                   rintahan  Soeharto  untuk  menampung  sebanyak  mungkin  pengang­
                   guran dengan modal yang relatif kecil. Kegiatan ini berhasil menekan
                   angka  pengangguran.  Para pekerja/buruh  Proyek  Padat Karya  men­
                   dapat  imbalan jasa berupa  bahan  pangan  yang  dimulai sejak 1972–
                   1973. Selain itu,  pemerintah  juga  memberikan imbalan jasa berupa
                   uang dan bantuan langsung kepada proyek berupa biaya pembelian
                   bahan­bahan serta peralatan kerja yang sangat dibutuhkan. Program­
                   program tersebut mampu menampung angkatan kerja, bahkan mampu
                   menyerap hingga 435.000 tenaga kerja. 31
                   a.  Kondisi Hukum Ketenagakerjaan dan Hubungan Kerja
                   Perubahan konsep “buruh” menjadi “tenaga kerja” pada dasarnya sudah
                   dimulai pada saat pendirian Departemen Tenaga Kerja pada tahun 1966
                   sebagai pengganti Kementerian Perburuhan di zaman Orde Lama. Istilah
                   "ketenagakerjaan" makin dipertegas dengan dikeluarkannya UU No. 14
                   Tahun 1969 tentang Ketentuan­Ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja.

                       Istilah "buruh" kemudian diganti menjadi "tenaga kerja" yang diar­
                   tikan sebagai orang yang mampu melakukan pekerjaan, baik di dalam
                   maupun di luar hubungan kerja, guna menghasilkan jasa atau barang
                   untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Definisi ini sangat luas karena
                   meliputi siapa pun yang mampu bekerja dalam hubungan kerja (formal)
                   maupun di luar hubungan kerja (informal) dengan karakteristik bekerja
                   di bawah perintah orang lain dan mendapatkan upah.
                       Dalam hubungan tersebut, pemerintah memiliki peran yang sangat
                   penting. Pemerintah harus menjadi penengah (pihak netral) maupun
                   pembimbing, pelindung, dan pendamai, jika terjadi perselisihan pada
                                                                  32
                   pihak­pihak yang terlibat dalam proses produksi.  Peraturan perun­
                   30  Kementerian Tenaga  Kerja  dan Transmigrasi, “Perkembangan Ketenagakerjaan  di
                       Indonesia”, https://www.ilo.org/sites/default/files/wcmsp5/groups/public/@asia/@
                       ro-bangkok/@ilo-jakarta/documents/publication/wcms_157809.pdf, diakses pada 7
                       Juni 2023, hlm. 18.
                   31  Ibid, hlm. 19.
                   32  F.X.  Djumialdi dan Wiwoho  Soejono,  1982,  Perjanjian  Perburuhan dan Hubungan
                       Perburuhan Pancasila, Jakarta: Bina Aksara, hlm. 71–72.

                              Bab 1 Pengertian, Sejarah, dan Sumber Hukum Ketenagakerjaan  17
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46