Page 149 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 149
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
dengan kekerasan ustad tersebut ia sering kabur-kaburan dari
pesantren, main ke kota yang jauh dari pesantren. Namun, untuk
membuat orang tuanya percaya bahwa Aang masih benar-benar
mengaji ditunjukkannya melalui perlombaan-perlombaan baca
kitab yang sering diadakan oleh pesantren.
Di antara kejuaraan yang sering diraih adalah lomba baca ki-
tab fathul qarib atau dikenal dengan kitab taqrib. Kitab ini men-
erangkan tentang thoharoh, ibadah, puasa, zakat, haji dan perd-
agangan. Kejuaraan itu diraih saat masih duduk dikelas tiga dan
empat ibtidaiyah diniyah.
Namun, piala yang diraihnya saat disampaikan ke ayahnya keti-
ka pulang ke Jakarta tidak mendapatkan respon sanjungan. Hal
itu dianggap oleh ayahnya hanya biasa saja, pun juga oleh ka-
kak-kakak kandungnya. Karena Aang sebelum nyantri di Buntet
dan di Cianjur pun sudah bisa baca kitab di bawah asuhan aya-
handanya.
Sebagai anak bungsu yang berbakat, keluarga menghendaki
Aang punya kemampuan lebih, karena kelak diharapkan bisa
melanjutkan perjuangan dakwah yang dilakukan oleh ayah dan
keluarganya. Aang yang memilih loncat langsung ke jenjang
Madrastah Tsanawiyah Diniyah tersebut mengikuti tes masuk,
di antaranya membaca kitab taqrib dan juga gramer bahasa Arab
(nahwu).
Kitab nahwu yang diujikan saat itu adalah kitab imrithi. Dengan
seizin Allah Swt, Aang lulus ujian dan bisa langsung masuk jen-
jang tsanawiyah, di sana ia akan belajar alfiah dan kitab-kitab
fiqh serta aqidah tingkat lanjutan.
Saat itu, pendidikan di Pesantren Situbondo hanya diperlakukan
| 135

