Page 151 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 151
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
Sesampainya di rumah, ia pun ketemu dengan keluarga, ketemu
Ibu Hafsah yang melahirkannya dan juga kakak abang kandun-
gnya, ia pun dengan santainya bisa makan bersama keluarga. Di
saat itulah Aang bertanya ayah ke mana ngga kelihatan? Lalu
saudaranya menjelaskan kalau Ayah sudah berbahagia karena
melihat Aang sungguh-sungguh di Pesantrennya, ayah sudah
pergi ke hadirat ilahi dengan senyuman yang indah dan pesan
agar Aang tidak usah dikabari atas kepergiannya. Melanjutkan
pendidikan pesantren itu jauh lebih penting daripada sekadar
menangisi kematian.
Jika pun dikabari, pun yang meninggal tidak akan hidup kem-
bali, itulah pembicaraan ayahnya waktu masih hidup bersama
kakak dan abang-abangnya. Kemudian Aang diajak ziarah ke
makam Ayahnya bersama keluarganya. Hal serupa juga dira-
sakan Aang setahun kemudian saat kepergian Ibundanya, ia be-
rada di pesantren dan tidak dikabari.
Hal terindah yang diingat oleh Aang saat ayahnya mengantarkan
ke berbagai pesantren pasti selalu membawa kitab, dan saat so-
wan itulah ayahnya mengaji sorogan ke tiap kiai yang dikunjun-
gi. Saat ditanya, ternyata ingin diakui sebagai santri walau han-
ya dengan beberapa pengetahuan saja. Menurut ayahnya, diakui
sebagai santri oleh ulama yang berilmu itu penting.
Begitulah inspirasi yang didapatnya sehingga kemudian dipaha-
mi juga bahwa ta’dzim (hormat) kepada Kiai itu penting, karena
dalam ketulusan para kiai ada doa yang terus mengalir untuk
para santrinya. Namun, ketika Aang di Al-Hikmah juga men-
galami kejenuhan bahkan kadang ingin pulang, ternyata saat
liburan tiba kesempatan itu pun datang. Ia bisa berlibur mengin-
jakkan tanah Betawi tempat kelahiranya, kegembiraan menyeli-
muti hatinya.
| 137

