Page 203 - sektorpublik
P. 203

berarti  pegawai  negerinya  pun  harus  mengabdi  kepada  rakyat,  bukan

            kepada  satu  partai.  Dalam  rnenjalankan  tugasnya  pegawai  negeri
            haruslah netral dan adil. Segenap sikapnya haruslah berpihak kepada dan

            memperjuangkan tegaknya tatanan bebas-demokratis.
                    Karena  di  Jerman  pendidikan  itu  urusan  negara-negara  bagian,

            setiap negara bagian mengatur dalam UU Negara Bagian (setara dengan

            perda  di  Indonesia)  tentang  netralitas  umpamanya  para  pendidiknya.
            Untuk menjaga netralitas di negara bagian, “dalam tugas kedinasannya,

            pegawai negeri harus bersikap netral baik secara politis, fahamis maupun
            agamis”.

                    Di Negara Bagian Berlin, “PNS tidak boleh mengenakan pakaian

            atau menggunakan simbol atau isyarat lainnya yang secara obyektif dapat
            mengancam  kepercayaan  terhadap  netralitas  penjalanan  tugas  PNS

            tersebut”. Namun, hal ini tidak berlaku bagi para siswa dan siswi sekolah-
            sekolah negeri.

                    Di  Negara  Bagian  Bavaria  yang  mayoritasnya  Katolik  pernah

            ditemui salib yang  tergantung  pada setiap dinding kelas sekolah  dasar
            negeri. Gugatan masyarakat yang terusik dimenangkan oleh Mahkamah

            Konstitusi Federal pada Mei 1995 dan salib pun harus dicopot. Meskipun
            demikian,  khusus  di  dunia  pendidikan,  di  sekolah-sekolah  swasta

            bermotifkan  agama,  umpamanya  sekolah  kristen,  larangan  itu  tidak
            berlaku.  Sama  halnya  dengan  netralitas  pegawai  negeri:  netralitas  itu

            selama  bekerja.  Setelah  meninggalkan  tempat  pekerjaannya,  pegawai

            negeri tidak dilarang untuk aktif di partai politik atau melakukan kegiatan
            beragama, bahkan disarankan mendorong iklim toleransi dan memupuk

            kehidupan politis dan beragama.




                                                                                       200
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208