Page 159 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 159
SEJARAH BENCANA GEMPA DI SUMATERA 159
keputuan dengan sadar mengenai sesuatu tradisi lisan tersebut bisa dikenali berbagai
yang diyakini akan terjadi atau dapat dicapai jenis bentuk mitos, folklor, legenda, dan
dengan baik. Merencanakan sesuatu, dalam pepatah-petitih. Dalam tradisi tulis, bisa
hubungan ini, apa yang dianggap berharga dikenali berbagai jenis karya sastra lama
bagi masa depan perlu diikuti dengan misalnya seperti Hikayat, Tambo, Kronik dan
langkah-langkah yang tepat agar dapat sejenisnya dan juga sastra-religius maupun
mencapai prospek yang lebih besar. sastra Melayu modern. Muatan pengetahuan,
Perspektif sejarah melihat bahwa masa pengalaman dan pemahaman gempa bumi,
kini merupakan perpajangan dari masa tersebut di atas pada hakekatnya banyak
lampau dan masa depan merupakan tersimpan dalam ingatan kolektif para nenek
keberlanjutan dari masa kini (Munslow, 2003: moyang masyarakat di Pulau Sumatera dan
1-25) Hidup pada masa sekarang berarti Indonesia pada umumnya.
hidup dengan kesadaran bahwa masa depan Pengetahuan dan pengalaman nenek
diharapkan akan lebih makmur, sejahtera, moyang masyarakat di PUlauSumatera dan
dan maju dengan kekayaan informasi yang Indonesia tersebut tersebut diperoleh sesuai
membuat manusia mampu memperoleh dengan proses perkembangan strategi
manfaat yang lebih besar dari pada yang pemikiran kebudayaan yang dimiliki oleh
diperoleh dari masa lampau. Oleh sebab masyarakat tersebut. Proses perkembangan
itu hidup pada masa kini perlu diisi dengan pemikiran kebudayaan tersebut berlangsung
rencana untuk masa depan, agar dapat dari masa lampau (tradisional) hingga masa
menjawab tantangan masa depan lebih baik kini (modern). Meminjam konsep tiga fase
dari pada masa kini (Toynbee, I, 1934) perkembangan mitis-ontologis-fungsional
Nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari Van Peursen (2000), maka perkembangan
dari potensi sosio-kultural dari Kebudayaan pemikiran dan pemahaman akan gempa
Melayu yang telah dimiliki oleh masayakat bumi pun dapat dianggap memiliki tahapan
di wilayah ini sangat strategis untuk perkembangan pemikiran yang mirip dengan
dikembangkan sebagai kebijakan ketiga tahapan tersebut. Secara prosesual
Kebudayaan di masa depan. Van Peursen perkembangan pemikiran terhadap gempa
(2000) menyatakan bahwa kebudayaan berlangsung dari bentuk tahapan pemikiran
diartikan sebagai suatu siasat manusia dalam yang bersifat mitis (masyakat nenek moyang
menghadapi masa depannya. Oleh karena kita pada masa kuna), ke tahapan bentuk
itu, pengembangan potensi sosio-kultural pemikiran yang bersifat ontologis (masyarakat
Kebudayaan Melayu dapat diartikan sebagai pada masa tradisional), sampai ke dalam
pengembangan potensi kearifan lokal tataran pandangan pemikiran yang bersifat
sebagai modal sosio-kultural masyarakat fungsional (masyarakat modern masa kini).
Melayu dalam siasat untuk menghadapi masa Hal tersebut juga mirip dengan konsep
depan sesuai dengan yang diharapkan. trilogi perkembangan pemikiran tentang
Khasanah nilai-nilai kearifan lokal pengetahuan dalam filsafat sejarah Auguste
dapat ditemukan dalam bentuk tradisi Comte, yang meliputi tahapan teologis,
lisan maupun tradisi tulis yang sangat kaya tahapan metafisis, dan tahapan positif-saintfik
dalam kebudayaan Melayu. Dalam muatan ( Gardiner, 1959: 73-82).

