Page 162 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 162

162            REVITALISASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENANGGULANGAN BENCANA GEMPA


              POTENSI KEARIFAN BUDAYA LOKAL        pernah memegang peran penting sebagai
              Kearifan lokal adalah karakteristik   pusat Kebudayaan Melayu pada abad  ke-
              pengetahuan lokal yang potensial     16  sampai abad ke-19. Periode tersebut
              berbasis pada budaya lokal yang telah   mencakup dari masa awal Kerajaan Samudra
              menjadi tradisi dalam kehidupan suatu   Pasai Darussalam (1250-1524 M) sampai
              komunitas masyarakat. Bentuk kearifan   berdiri dan berkembangnya Kerajaan Aceh
              lokal bervariasi secara luas, mulai dari   Darussalam (1524-1900). Selama itu muncul
              bentuk sistem nilai budaya, sistem sosial,   tokoh raja- raja terkemuka, seperti salah satu
              sampai manifestasi fisik kebudayaan dalam   di antaranya Sultan Iskandar Muda (1687-
              bentuk pengetahuan lokal, teknologi lokal,   1636). Alfian (2006: 247-248) juga menjelaskan
              serta juga bentuk fisik dari lingkungan   bahwa pada periode tersebut muncul pula
              buatan. Kajian tentang kearifan lokal   pusat Sastra Islam-Melayu, dengan tokoh-
              tersebut merupakan upaya untuk dapat   tokoh pemikir dan pujangga terkemukanya
              merealisaskan keharmonisan lingkungan   seperti  Hamzah  Fansuri, Syamsuddin
              kehidupan baik dalam komunitas pedesaan   as-Sumatrani, Nuru’d-din ar-Raniri, dan
              maupun  perkotaan  yang berkelanjutan   Abduurrauf as-Singkili. Salah satu karya tulis
              melalui penggunaan dan pengembangan   terkemuka juga lahir yaiu Kitab Tajussalatin atau
              pengetahuan lokal, secara kontekstual dan   Mahkota Segala Raja dari Bukhari al-Jauhari.
              partisipatif.                        Nilai-nilai ajaran moral dan spiritual dari karya-
                 Kemampuan atau potensi Budaya     karya sastra–religius tersebut menarik untuk
              Lokal (seperti nilai-nilai, norma-norma,   digali. Contohnya antara lain seperti 25 pasal
              struktur dan relasi sosial, termasuk juga   dari ajaran Tajussalatin dan 21 pasal dari Pohon
              juga bentuk-bentuk lingkungan buatan)   Kerajaan yang dirumuskan oleh Paduka Sri
              sebagai sumber pengetahuan akan sangat   Sultan ‘Alaiddin Johan ‘Ali Ibrahim Mughayat
              beragam  atau  berbeda-beda  tergantung   Syah. Butir-butir ajaran moral-spiritual dari
              kearifan  masyarakat  lokal  tersebut  dalam   karya budaya lokal tersebut dapat diseleksi
              memanfaatkan budaya lokal tersebut sebagai   dan dipakai untuk dikembangkan sebagai
              sumber ilmu pengetahuan.  Potensi kearifan   materi perencanaan pengembangan strategi
              budaya lokal di wilayah yang dibicarakan   Kebudayaan Pemerintah Daerah Aceh pada
              dalam buku ini dapat diidentifkasikan di   khususnya dan daerah di wilayah Sumatera
              beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera   lainnya pada umumnya.
              Utara, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan.      Selain Kerajaan Islam Aceh, di sekitarnya
              Masing-masing secara historis pernah   juga lahir kerajaan-kerajaan Islam baik
              menjadi pusat budaya politik kerajaan   yang besar maupun kecil, yaitu Biar dan
              (pusat politik, sosial, ekonomi dan budaya),   Lambiri, Pedir, Pirada, Pase,  Aru,  Arcat,
              yang sekaligus menjadi bagian dari pusat   Rupat, Siak Kampar,  Tongkal, Indragiri,
              Kebudayaan Melayu.                   Jambi, Palembang,  Andalas, Pariaman,
              Sebagai contoh potensi nilai-nilai kearifan lokal   Minangkabau,  Tiku,  Panchur,  dan  Barus.
              dari Kebudayaan Melayu yang berkembang   Semua kerajaan-kerajaan tersebut wilayahya
              di wilayah Aceh dapat disimak di sini sebagai   tersebar hingga Riau,  Jambi, Sumatera
              berikut. Menurut Alfian (2006: 237-259), Aceh   Selatan dan Sumatera Barat (IDAS, 3,
   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167