Page 137 - Sun Flower Full Naskah
P. 137

lihat. Iya! Hae-Seol melihat Ray tak jauh darinya. Lelaki itu ten-
          gah berdiri di balik dinding, seperti ada yang sedang dilihatnya.
                 “Ray…”
                 Hae-Seol memanggil Ray, dan melambaikan tangan.
          Ray yang menoleh  memberi isyarat dengan telunjuk di  bibir
          sepertinya Ray meminta Hae-Seol diam. Hae-Seol masih tak
          mengerti kenapa ia harus diam?             “Ray… aku ke-
          sana ya?” kata Hae-Seol kemudian menghampiri Ray.
                 “Kau sedang apa?” tanya Hae-Seol. Tapi ada apa den-
          gan ekspresi Ray? Apa dia kesal karena Hae-Seol memanggiln-
          ya?
                 “Kubilang diam! Astaga! Sekarang kita lari saja. Ayo!”
                 Ray menarik tangan Hae-Seol dan berlari. Mereka
          kemudian sembunyi. Ray melihat orang-orang yang mengejar
          mereka sudah kembali, untuk sementara ia tak perlu khawatir.
                 Hae-Seol dengan napas yang terengah-engah masih be-
          lum bertanya apa-apa pada Ray, ia harus menjejali lelaki itu den-
          gan banyak pertanyaan. Ini jelas malam hari dan bukan waktu
          yang cocok untuk olahraga.
                 “Mianhae…” bukan pertanyaan,  tapi justru kata maaf
          yang keluar. Hae-Seol sadar sekarang orang dipanggilnya Ray
          bukan orang dengan sifat humoris seperti di mimpinya. Jika ia
          bertanya banyak mungkin hanya akan membuat Ray kesal.
                 “Kau… kenapa memanggilku?” tanya Ray.
                 “Tadi aku tak sengaja melihatmu.”
                 “Ray, mereka tadi siapa? Mengapa mereka mengejar
          kita? Memangnya apa yang kau lihat tadi?” Hae-Seol tak bertan-
          ya apa-apa, pertanyaan yang ingin ia tanyakan biarlah ia sendiri
          yang menerka jawabannya. “Dan, ini…” ia memberikan hadiah
          yang dibelinya tadi pada Ray.
                 “Apa ini?” Ray mengerutkan kening, ia tidak sedang
          ulang tahun, ia juga tidak sedang memenangkan perlombaan,
          tadi ia bahkan membahayakan nyawa Hae-Seol kalau saja mere-
          ka ketahuan.
                 “Itu senilai dengan permen jeruk kemarin,” kata Hae-
          Seol. Napasnya sudah kembali normal, tapi ia harus mengajak
          Ray membeli air mineral. “Jangan dibuka sekarang,” pintanya.

                                      131
   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142