Page 246 - Sun Flower Full Naskah
P. 246

“Wah, luar biasa… selamat Kak.”
                 Ray dan Rian juga memberikan bunga saat orang-orang
          sudah tak ramai lagi mengelilingi Hae-Seol. Gadis itu tampak
          sangat  bahagia, cita-citanya  untuk  menjadi  designer hebat  dan
          mendunia sudah terwujud dan ia akan  terus meningkatkan
          prestasinya itu.
                 Hae-Seol meminta Rian membawakan buket bunga ke
          mobil, ia masih harus menemani Bunda, namun Ray meminta
          waktunya sebentar, “Aku ingin mengatakan hal penting pada-
          mu,” kata Ray. Lama Hae-Seol menunggu Ray berbicara lagi,
          tapi di antara mereka hanya ada keheningan.  Sepertinya  Ray
          tengah berpikir keras.
                 “Hae-Seol, aku mencintaimu.”
                 Hae-Seol sampai menggigit bibir mendengarkan Ray
          berkata begitu. Ia sangat terkejut sekarang, bahkan ia takut Ray
          mendengar degup jantungnya yang mendadak lebih cepat ber-
          detak.  Bagai ada sesuatu yang  menyambarnya,  ia senang, ah!
          Tidak, ia bahagia, ah! Rasanya juga tidak, atau Hae-Seol kes-
          al? Bukan, bukan itu yang ia rasakan. Entah harus disebut apa
          perasaan yang bercampur aduk seperti ini.
                 “Tidak,  jangan mengatakan apapun,” kata Ray lagi.
          “Kau pernah bilang kan? Kau harus berbicara agar orang lain
          tahu. Dan sekarang aku sudah mengatakan itu agar kau tahu,”
          Ray mengambil napas pelan, ia mengambil jeda untuk berka-
          ta-kata lagi sebab ia melihat Hae-Seol sangat terkejut, tadi Hae-
          Seol tersenyum lalu gadis itu tampak bingung.
                 “Dan tentang  permintaanku,  aku meminta agar kau
          selalu bahagia dengan atau tanpa aku. Hae-Seol, terima kasih
          atas semuanya. Aku bukan sinarmu, apalagi mataharimu, justru
          sebaliknya, kau adalah matahariku. Kau membuatku bahagia.
          Tapi, jika ada orang lain yang menjadi mataharimu maka biar-
          kan aku menjadi langitmu. Agar aku bisa melenyapkannya saat
          kau bersedih lalu aku dapat memberimu banyak bintang.”
                 Hae-Seol masih tertegun menatap Ray, mendengar ka-
          ta-kata Ray yang sangat menyentuh itu Hae-Seol yakin semua
          gadis akan menyukainya. Hae-Seol tak perlu memberitahu bah-
          wa Ray memang menempati ruang khusus di hatinya, dengar

                                     240
   241   242   243   244   245   246   247   248   249   250   251