Page 377 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 377

penyandang  memenuhi  ketentuan  untuk  didata.  Untuk  bisa  dinyatakan
                 sebagai  pemilih  harus  ada  surat  keterangan  dari  pihak  dokter  yang
                 menerangkan bahwa ia sanggup atau mampu menggunakan hak pilihnya.
                 Masalahnya  adalah  tidak  semua  KPU  menyiapkan  anggaran  untuk
                 pengadaan surat keterangan itu. Ketentuan lainnya adalah jika penyandang
                 kesulitan mencoblos, maka bisa juga didampingi oleh orang yang dipilihnya.
                 Kondisi ini bertentangan dengan asas Pemilu yakni rahasia.


                 Ketiga, tidak mudahnya untuk merekrut tenaga pencatat karena warga di
                 wilayah ini memiliki kesibukan dengan pekerjaan rutin. Ada sejumlah warga
                 yang  tidak  memiliki  pekerjaan  tetap.  Namun,  masalahnya  adalah  bahwa
                 warga terebut memiliki kapasitas yang rendah. Banyak warga juga menolak
                 tugas ini dengan alasan karena tugas ini penuh resiko. Selain itu, tugas ini
                 dianggap sangat berat, namun fasilitas yang diberikan kepada para pertugas
                 tidak sebanding.


                 Dari sejumlah persolan itu, maka strategi sebagai langka-langka antisipasi
                 yang dilakukan KPU Provinsi DKI Jakarta adalah:

                 1.  Dikarenakan tidak ada pembiayaan terkait pemeriksaan kesehatan jiwa
                    dalam hal pembuktian terkait “sedang tidak terganggu jiwanya”, maka
                    KPU DKI Jakarta meminta bantuan Pemerintah Daerah DKI Jakarta (c.q
                    Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Sosial, dan Kepala Dinas Dukcapil)
                    untuk  dapat  membantu  mengkoordinasikan  Warga  Binaan  dengan
                    dilengkapi  Nomor  Induk  Kependudukan/Nomor  Kepala  Keluarga
                    (NIK/NKK)  serta  surat  keterangan  kesehatan  jiwa.  Kerja  sama  ini
                    dilakukan  selama  sebulan  dengan  mendatangkan  dokter  spesialis
                    kejiwaan untuk masuk ke dalam panti sosial dan melakukan pemeriksaan
                    disertai dengan kelengkapan kewarganegaraan dengan mengidentifikasi
                    warga dan melengkapi NIK/NKKnya.
                 2.  Belajar  dari  UU  10  Tahun  2016  yang  mengakomodasi  putusan  MK
                    sehingga  KPU  DKI  Jakarta  sesungguhnya  sudah  mendapatkan  data
                    pemilih  dengan  klausul  sedang  tidak  terganggu  jiwanya  dan  telah
                    ditetapkan  dalam  DPS  (Daftar  Pemilih  Sementara)  sesuai  dengan
                    ketentuan yang berlaku saat itu. Namun, pasca keluarnya Edaran KPU RI
                    Nomor  1401  Tahun  2018,  KPU  DKI  Jakarta  menyesuaikan  dengan
                    memasukkan  kembali data  pemilih  sesuai  ketentuan,  yakni  sepanjang




                                              BAB 8 – PENGALAMAN BAIK DI BERBAGAI DAERAH   361
   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381   382