Page 376 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 376

Untuk  mengatasi  berbagai  persoalan  ini  tentu  dibutuhkan  kecakapan,
           strategi,  solusi  dan  inovasi  dari  masing-masing  penyelenggara  agar
           persoalan  pendaftaran  pemilih  tidak  terjadi  berulang-ulang  dikemudian
           hari. Keadaan wilayah seperti di kota-kota besar yang sifat penduduknya
           dinamis seperti datang dan pindah karena ikatan kerja, jumlah tenaga kerja
           yang cukup tinggi, karakter penduduk yang tertutup dan pasif sepertinya
           perlu dilakukan penanganan pendataan secara khusus.


           Keadaan di DKI Jakarta yang penduduknya sangat padat dan mobilitasnya
           sangat tinggi tentu memerlukan strategi khusus. Seperti permasalahan di
           sejumlah  daerah  lain,  pendataan  pemilih  yang  dilakukan  oleh  KPU  DKI
           Jakarta  memiliki  sejumlah  tantangan.  Pertama,  keadaan  penduduk  yang
           padat  dan  dinamis.  Banyak  masyarakat  yang  tidak  tinggal  sesuai  alamat
           tertera  di  KTP  elektroniknya.  Padahal,  sesuai  ketentuan,  pemilih  harus
           dicatat sesuai dengan alamat tertera di KTP elektronik. Sebagai destinasi
           dari tujuan karir atau jasa, penduduk di wilayah ini banyak yang tinggal di
           rumah  kontrakan,  rumah  susun,  apartemen,  tanah  sengketa/gusuran,
           bahkan  juga  Lapas/Rutan.  Untuk  mendata  di  perumahan  elite  atau
           apartemen,  petugas  tak  bisa  masuk  karena  proses  perizinan  yang  super
           ketat. Selain warganya sulit dijumpai, warga yang bisa dijumpai tidak serta
           merta memiliki kesadaran untuk berpartipasi.


           Kedua, perubahan regulasi yang sangat dinamis. Definisi pemilih menurut
           UU Pemilu adalah yang berusia 17 tahun ke atas dan/atau sudah menikah.
           Namun, di dalam regulasi lain dinyatakan bahwa pemilih harus memenuhi
                                                                2
           syarat  tidak  sedang  terganggu  jiwa  atau  ingatannya.  Setelah  itu,  keluar
           regulasi  lain  yang  meminta  KPU  di  semua  Provinsi  dan  Kabupaten/Kota
           untuk  mendata  warga  negara  Indonesia  (WNI)  penyandang  disabilitas
           grahita  atau  gangguan  jiwa/mental  dan  dimasukkan  dalam  DPT  Pemilu
                 3
           2019.

           Ketika  penyandang  disabilitas  grahita  atau  gangguan  jiwa/mental  dan
           dimasukkan  dalam  DPT  Pemilu  2019,  masalah  yang  kemudian  muncul
           adalah  banyaknya  keluarga  yang  tidak  mengijinkan  anggota  keluarganya
           penyandang disabilitas mental didata ke dalam DPT. Kemudian tidak semua

        2   Pasal 4 Ayat 2 butir b PKPU No. 11 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas PKPU No. 11 Tahun 2018
          tentang Penyusunan Daftar Pemilih di Dalam Negeri Dalam Penyelenggaraan Pemilihan Umum.
        3   Surat Edaran KPU No. 1401/PL.02.1-SD/01/KPU/CI/2018.
    360     BAB 8 – PENGALAMAN BAIK DI BERBAGAI DAERAH
   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381