Page 373 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 373

pada  hubungan  koordinatif  dengan  para  Anggota  KPU.  Di  sisi  yang  lain,
                 mereka  secara  struktural  harus  menunjukan  kepatuhan  dan  loyalitas
                 kepada  sekretaris  sebagai  atasannya  langsung.  Konflik  ini  terjadi  karena
                 beberapa faktor, misalnya kekurangpahaman terkait kewenangan, konflik
                 kepentingan,  atau  relasi  sosial  atau  hubungan  emosional  inividu  yang
                 kurang baik.


                 Konflik internal sering juga melibatkan antar sesama Anggota KPU. Relasi
                 personal antar Anggota KPU yang tidak baik akan sangat mempengaruhi
                 kinerja  KPU.  Seseorang  yang  bekerja  dengan  lingkungan  kerja  yang
                 bermasalah tentu saja akan sangat mengganggu, baik bagi dirinya, maupun
                 bagi  prestasi  organisasi  (Bambang,  1991).  Lingkungan  Kerja  merupakan
                 salah  satu  faktor  yang  dapat  mempengaruhi  kinerja  seseorang.  Seorang
                 pegawai yang bekerja di lingkungan kerja yang mendukung biasanya akan
                 menghasilkan kinerja yang baik. Sebaliknya, jika seorang pegawai bekerja
                 dalam lingkungan kerja yang tidak baik, maka akan membuatnya menjadi
                 pasif, malas, cepat lelah.


                 Konflik antar Anggota KPU di sejumlah daerah disebabkan oleh sejumlah
                 hal, yakni masih adanya perasaan saling tidak menyenangkan satu sama lain
                 akibat proses seleksi penyelenggara sebelumnya. Konflik juga dapat terjadi
                 karena  ada  polarisasi  dukungan  dalam  pembentukan  struktur  KPU.
                 Perbedaan  sikap  dalam  pemilihan  ketua  ternyata  membekas  sehingga
                 mempengaruhi  soliditas  tim  dalam  melaksanakan  tugas  sebagai
                 penyelenggara Pemilu. Faktor lainnya adalah belum semua Anggota KPU
                 bekerja secara mandiri sehingga masih melekat kepentingan kelompok.

                 Koordinasi  yang  baik  secara  berjenjang  di  dalam  KPU  menjadi  modal
                 penting  bagi  terlaksananya  tahapan  Pemilu  secara  berkualitas.
                 Ketidakkompakan  di  internal  KPU  dapat  menyebabkan  kerja-kerja  KPU
                 berjalan  tanpa  kontrol  dan  tanpa  koordinasi.  UU  Pemilu  telah  mengatur
                 mekanisme  seleksi  penyelenggara  Pemilu.  Saat  ini,  semua proses  seleksi
                 untuk  memilih  Anggota  KPU  Provinsi  dan  KPU  Kabupaten/Kota  telah
                 diselenggarakan oleh KPU RI secara langsung. Pada satu sisi, hal ini adalah
                 baik karena memperkuat relasi yang hirarkhis antara KPU RI dan KPU di
                 daerah.  Pada  sisi  yang  lain,  hal  ini  juga  saja  melahirkan  dampak  berupa
                 terganggunya sistem komando dan koordinasi secara hierarkis antara KPU
                 Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota.

                                              BAB 8 – PENGALAMAN BAIK DI BERBAGAI DAERAH   357
   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377   378