Page 368 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 368

secara  mendadak.  Hal  ini  tentu  saja  berdampak  pada  berbagai  aktivitas
           dalam proses penyelenggaran Pemilu, seperti input data dalam sistim daftar
           pemilih  (Sidalih)  dan  input  data  dalam  ssitim  informasi  penghitungan
           (Situng) yang terganggu, baik terkait dengan keakuratan, maupun terkait
           dengan penyesuaian batas waktu.

           Ketiga, ancaman terjadinya bencana alam. Ada bentuk bencana alam yang
           bisa  terdeteksi,  namun  juga  ada  bentuk  bencana  alam  yang  sulit  untuk
           terdeteksi sejak awal. Hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang atau
           pasang air laut adalah contoh bencana alam yang sedapat mungkin sudah
           mulai terdeteksi sejak awal. Apalagi siklus musim tahunan sudah diketahui.
           Namun, bencana alam yang tidak terdeteksi lebih menjadi ancaman bagi
           penyelenggara Pemilu. Gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus adalah
           bencana yang tidak bisa terdeteksi.


           Keempat, ancaman lingkungan eksternal. Adanya prioritas anggaran untuk
           pembangunan di daerah bisa saja mempengaruhi pelaksanaan pemilihan
           kepala daerah (Pilkada). Bisa saja anggaran yang dialokasikan oleh Anggaran
           Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak sesuai dengan yang diusulkan
           oleh lembaga penyelenggara Pemilu. Sebagai contoh, penetapan anggaran
           yang  hanya  untuk  mencakup  tahapan  pemungutan  suara  dan  tidak
           mencakup  kemungkinan  terjadinya  pemungutan  suara  ulang.  Selain  itu,
           prosedur  pencairan  anggaran  yang  terlambat  juga  dapat  mengganggu
           sejumlah  kegiatan.  Petugas  tidak  akan  bekerja  optimal  mendistribusikan
           logistik  jika  honor  mereka  tidak  dibayarkan  sesuai  kesepakatan.  Contoh
           berikutnya,  KPU  juga  sering  mengalami  kesulitan  jika  ada  putusan
           pengadilan  tentang  syarat  calon  tertentu.  Dalam  kondisi  ini,  surat  suara
           sudah tercetak dan terdistribusi, namun ada calon tertentu yang berubah
           status  dari  memenuhi  syarat  menjadi  tidak  memenuhi  syarat  atupun
           sebaliknya. Parpol yang memiliki konflik internal juga seringkali menyulitkan
           KPU  dalam  proses  pencalonan.  Masing-masing  pihak  mengklaim  sebagai
           pihak  yang  sah  dalam  mengusung  calon.  Kondisi  semakin  mengancam
           ketika  konflik  internal  di  Parpol  kemudian  merambah  di  kalangan
           masyarakat.


           Kelima,  ancaman  regulasi  yang  tidak  mendukung.  Kelemahan  regulasi
           menjadi  salah  satu  masalah  penyelenggara  saat  ini.  Tidak  semua  norma
           yang terkandung dalam regulasi kepemiluan dapat mengatasi fakta-fakta

    352     BAB 8 – PENGALAMAN BAIK DI BERBAGAI DAERAH
   363   364   365   366   367   368   369   370   371   372   373