Page 372 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 372

pengamatan  latar  belakang  terhadap  krisis  yang  terjadi,  menemukan
           masalah  jangka  pendek  maupun  jangka  panjang,  mengatakan  yang
           sejujurnya kepada para pemangku kepentingan yang mengalami dampak
           dari krisis, menempatkan diri sebagai pihak yang menjadi korban dari krisis
           yang dialami, dan menunjukkan rasa simpati.

           Sedangkan tahapan setelah krisis merupakan tahapan terakhir ketika krisis
           telah terjadi. Dalam tahapan ini, KPU bisa melakukan evaluasi atas strategi
           penanganan  krisis  yang  dilakukan,  yaitu  apakah  memang  memberikan
           dampak  yang  signifikan  ataukah  memang  perlu  pembenahan.  KPU  juga
           dapat memberikan respon kepada semua pihak karena telah berhasil keluar
           dari masa krisis. Terakhir, KPU dapat melanjutkan kontrol kembali, yaitu
           dengan melakukan pencermatan masalah (scanning isu) yang mungkin akan
           terjadi lagi di kemudian hari.


        D. Pengalaman Baik dari Berbagai Daerah


           Sejauh  ini,  KPU  RI  telah  mengidentifikasi  sejumlah  daerah  yang  bisa
           dijadikan rujukan karena KPU di daerah-daerah tersebut memiliki capaian
           terbaik dalam kategori tertinggi, tercepat/terakurat, responsif dan inovatif
           untuk kondisi-kondisi tertentu, dan kategori tersolid dalam bekerja sama.
           Kategori tertinggi adalah untuk tingkat partipasi pemilih. Kategori tercepat
           adalah untuk input data pada aplikasi Situng dan sidalih. Sedangkan kategori
           penyelenggara responsif adalah ketika proses pencalonan di daerah konflik
           dan pelayanan dan jaminan memilih di daerah rawan bencana alam. Untuk
           kategori tersolid adalah untuk daerah yang berhasil membangun relasi dan
           kerjasama organisasi.

           D.1.  Soliditas Tim


           Soliditas merupakan salah satu kekuatan organisasi, baik itu soliditas dalam
           lingkungan  internal,  ataupun  soliditas  dengan  lingkungan  eksternal.  KPU
           akan sulit bekerja secara optimal jika tidak terbangun hubungan yang baik
           antar  para  Anggota  KPU  atau  antara  Anggota  KPU  dengan  lembaga
           kesekretariatan.  Di  beberapa  daerah,  kerja-kerja  KPU  kerap  terhambat
           karena  tidak  terbangunnya  relasi  yang  baik  antara Anggota  KPU  dengan
           lembaga kesekretariatan. Loyalitas pegawai dari sekeretariat KPU menjadi
           ambigu akibat ketidakkompakan. Di satu sisi, para pegawai harus tunduk

    356     BAB 8 – PENGALAMAN BAIK DI BERBAGAI DAERAH
   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377