Page 370 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 370

memperhatikan karakteristik atau keadaan khusus suatu daerah. Dengan
           demikian, terdapat tuntutan bagi KPU di daerah untuk menciptakan inovasi
           atau strategi khusus sepanjang tidak menyimpang dari kebijakan yang telah
           dibuat oleh KPU RI.


           Ketiga, penting bagi KPU untuk menyusun strategi cadangan, yaitu sebuah
           tindakan  yang  dilakukan  untuk  mengantisipasi  terjadinya  keadaan  yang
           sebelumnya telah terdeteksi berdasarkan pengalaman pada pemilihan di
           daerahnya  atau pengalaman  yang  pernah  terjadi di daerah lain.  Sebagai
           contoh,  jika  seorang  petahana  akan  mencalonkan  diri  kembali,  tentu
           potensi pelanggaran sudah bisa terdeteksi sejak awal. Contoh lain, jika di
           satu  daerah  tidak  terjangkau  fasilitas  internet,  tentu  potensi  terjadinya
           masalah  pengimputan  data  bisa  terjadi.  Juga,  jika  Parpol  memiliki
           kepengurusan  ganda  di  tingkat  pusat,  maka  konflik  pencalonan  ganda
           berpotensi  terjadi  di  semua  tingkatan.  Dalam  konteks  pendistribusian
           logistik,  jika  pendistribusian  logistik  dilakukan  pada  saat  bersamaan
           waktunya  dengan  musim  penghujan  yang  lebat,  maka  hal  tersebut
           berpotensi  terganggu.  Sedangkan  dalam  tahapan  pencalonan,  jika
           pencalonan hanya terdiri dari dua pasangan calon, maka polarisasi pemilih
           akan terjadi sehingga suasana menjadi sangat dinamis. Polarisasi ini juga
           bisa  mengganggu  kemandirian  penyelenggara,  apalagi  dua  calon  yang
           berkompetisi  memiliki  kesamaan  latarabelakang  dengan  penyelenggara
           seperti, kesamaan ormas, kesamaan agama atau etnik.


           Ketrampilan  untuk  mendeteksi  secara  cepat  terkait  kondisi  khusus  (to
           manage uncertainty skill) sangat dibutuhkan oleh KPU. Pertama, Anggota
           KPU yang memiliki pengalaman panjang dalam berorganisasi tentu sangat
           membantu  dalam  merumuskan  langkah-langkah  antisipatif.  Kedua
           kemampuan  yang  bersumber  dari  pengalaman  sebagai  penyelenggara.
           Proses rekrutmen penyelenggara yang tidak menganut prinsip sistim merit
           dapat saja menjadi penghambat penyelenggara dalam merumuskan solusi,
           langkah-langkah  strategis,  inovatif  dan  rensponsif  dalam  mengantipasi
           terjadinya masalah atau dalam menyelesaikan permasalahan. Jika Anggota
           KPU Provinsi memiliki pengalaman menjadi Anggota KPU Kabupaten/Kota
           dan Anggota KPU Kabupaten/Kota memiliki pengalaman sebagai Anggota
           PPK atau penyelenggara ad hoc lainnya, maka hal ini menjadi bekal dan
           sangat  membantu  menjawab  permasalahan  diatas.  Ketiga,  kemampuan
           penyelenggara dalam penguasaan regulasi kepemiluan dan aturan lain yang

    354     BAB 8 – PENGALAMAN BAIK DI BERBAGAI DAERAH
   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375