Page 369 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 369

dilapangan.  Sehingga  ketika  fakta  itu  muncul  maka  penyelenggara
                 mengalami  kesulitan  mengeksekusi.  Permasalahan  lainnya  adalah
                 terjadinya tumpang tindih norma antar pasal serta tidak saling bersinergi
                 antar regulasi.


              C. Manajemen Krisis

                 Terjadinya situasi yang tidak normal sering dialami oleh KPU. Menghadapi
                 kondisi  darurat  atau  peristiwa  khusus  yang  tidak  terduga  tentu
                 membutuhkan  ketrampilan  tersendiri,  baik  di  dalam  konteks  tindakan
                 antisipatif, maupun di dalam konteks tindakan yang harus dilakukan dalam
                 menghadapi  situasi  itu.  Tindakan  antisipatif  dapat  dilakukan  sejak  awal
                 untuk  mengantisipasi  agar  masalah  tidak  terjadi  dalam  menjalankan
                 tahapan, program dan kegiatan. Juga strategi penindakan untuk mengatasi
                 masalah  sehingga  masalah  yang  muncul  kemudian  tidak  menimbulkan
                 resiko yang lebih besar. Semua tindakan ini harus dilakukan guna menjamin
                 kepastian  hukum,  pelayanan  peserta  Pemilu  dan  pemilih  secara  adil,
                 minimalisasi  konflik  di  masyarakat,  dan  mempertahankan  kepercayaan
                 publik terhadap KPU.

                 KPU  perlu  bertindak  sedini  mungkin  (warning  stage)  untuk  mengurangi
                 segala bentuk resiko yang muncul. Tindakan awal yang perlu dilakukan oleh
                 KPU  adalah  mendeteksi  secara  dini  atau  menganalisis  gejala-gejala  yang
                 berpotensi mengancam tahapan, program dan kegiatan Pemilu. Dasar yang
                 bisa digunakan dalam menganalisis adalah pertama, belajar dari kegagalan
                 atau  keberhasilan  penyelenggara  Pemilu  di  daerah  yang  lain  dalam
                 mengatasi  situasi  tertentu,  penguasaan  atas  kondisi  geografi  daerah,
                 mempelajari siklus cuaca di daerah, menguasai informasi tentang dinamika
                 politik nasional maupun lokal, dan memahami karateristik masyarakat lokal
                 dengan  mengkaitkannya  dengan  bakal  calon.  Langkah  antisipatif  lainnya
                 adalah menganalisis pasal demi pasal yang rawan di dalam UU Pemilu yang
                 berpotensi  melahirkan  masalah  serta  menganilisis  ketersediaan  dan
                 kemampuan sumber daya manusia.


                 Kedua,  dalam  melaksanakan  tahapan-tahapan  Pemilu,  KPU  membentuk
                 peraturan-peraturan sebagai pedoman bagi setiap penyelenggara Pemilu
                 dalam  melaksanakan  tugas-tugas  teknis,  administratif  dan  operasional.
                 Namun,  aturan-aturan  itu  sifatnya  berlaku  bagi  semua  daerah  tanpa

                                              BAB 8 – PENGALAMAN BAIK DI BERBAGAI DAERAH   353
   364   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374