Page 794 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 794

Presiden  Federasi  Serikat  Buruh  Makanan  dan Minuman  (FSBMM),  Dwi  Haryoto  mengatakan
              perubahan fundamental undang-undang (UU) yang mempengaruhi nasib setiap warga negara
              tidak  boleh  dipaksakan.  Apalagi  saat  ini  Indonesia  tengah  dilanda  pandemi  COVID-19  dan
              menghadapi krisis sebagai dampaknya.

              Sementara itu, Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) menyatakan buruh
              tidak diberikan kesempatan untuk berpartisipasi secara penuh dalam membahas RUU Cipatker.
              Padahal  RUU  ini  akan  mempengaruhi  kehidupan  warga  negara,  khususnya  buruh,  dalam
              beberapa dekade ke depan.

              "Oleh karena itu, omnibus law harus dihentikan. Diskusi lebih lanjut harus dilakukan setelah
              pandemi ini berakhir ketika kita dapat berbicara dan berpartisipasi dengan bebas," tegas Ketua
              Umum FBTPI Salman.

              Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) menyebut RUU Ciptaker memberikan janji semua akan
              tersedianya  lebih  banyak  pekerjaan  di  masa  depan.  Presiden  FSPM  Husni  Mubarok
              mempertanyakan pekerjaan seperti apa yang diciptakan.

              "RUU Ciptaker justru akan mengurangi jaminan akan pekerjaan. Lalu memungkinkan pengusaha
              untuk  mengeksploitasi  lebih  banyak  pekerja  kontrak  dengan  upah  rendah  dan  pekerjaan
              outsourcing di semua sektor," terangnya.
              Gabungan  serikat  pekerja  itu  menyatakan  lima  sikap  terkait  RUU  Ciptaker.  Pertama,
              menghentikan pembahasan RUU Ciptaker, serta tidak dibawa dan disahkan menjadi UU dalam
              Rapat Paripurna. Kedua, memastikan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak
              boleh diubah atau dikurangi.

              Ketiga, merundingkan kembali dan membuka dialog konstruktif dengan serikat pekerja untuk
              mencapai dna membahas masalah yang tidak ada dalam UU Nomor 13 Tahun 2003. Keempat,
              memastikan  pasal-pasal  di  dalam  subklaster  ketenagalistrikan  yang  sudah  ada  putusan  dari
              Mahkamah Konstitusi (MK) tidak dihidupkan kembali. (kri).







































                                                           793
   789   790   791   792   793   794   795   796   797   798   799