Page 796 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 796

BURUH SEBUT OMNIBUS LAW CIPTAKER BERI JANJI SEMU

              Presiden Federasi Serikat Pekerja Mandiri (  FSPM  ), Husni Mubarok mengatakan Rancangan
              Undang-Undang (RUU)  Omnibus Law Cipta Kerja  hanya memberikan janji semu pekerjaan.
              Husni menyebut RUU tersebut justru mengurangi jaminan akan pekerjaan.

              "RUU  Cipta  Kerja  memberikan  janji  semu  akan  tersedianya  lebih  banyak  pekerjaan  di  masa
              depan. Pekerjaan macam apa yang diciptakan?" kata Husni dalam keterangan tertulis, Senin
              (5/10).

              Husni menyatakan RUU Ciptaker juga membuka peluang pengusaha untuk mengeksploitasi lebih
              banyak pekerja kontrak dengan upah rendah dan pekerjaan outsourcing di semua sektor.

              Selain itu, kata Husni, sekalipun tersedia pekerjaan, pekerjaan tersebut hanya memberikan upah
              rendah yang terjamin, tapi tanpa ada masa depan.
              "Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang tidak permanen yang didasarkan pada rasa takut untuk
              mendapatkan pekerjaan kontrak berikutnya," ujarnya.

              Senada,  Ketua  Umum  Federasi  Serikat  Buruh  Kerakyatan  (SERBUK)  Indonesia,  Subono
              menyatakan pekerjaan baru yang dijanjikan lewat Omnibus Law ini bukanlah pekerjaan nyata.
              Menurutnya, pekerjaan yang tersedia berupah murah dan bersifat sementara.

              Subono  menyatakan  krisis  ekonomi  akibat  pandemi  virus  corona  (Covid-19)  memang
              membutuhkan percepatan pemulihan, namun tak datang dari investasi asing yang masuk ke
              Indonesia untuk mengeksploitasi tenaga kerja outsourcing, mengambil sumber daya alam, dan
              merusak lingkungan..

              "Kita tidak dapat pulih secara ekonomi dengan dasar upah murah dan pekerjaan yang tidak
              terjamin. Hanya pembelanjaan domestik dengan dasar pekerjaan tetap dan upah layak yang
              dapat membantu Indonesia pulih dari pandemi," ujarnya.

              Sementara itu Presiden Federasi Serikat Buruh Makanan dan Minuman (FSBMM), Dwi Haryoto
              mengatakan  perubahan  fundamental  dari  undang-undang  yang  mempengaruhi  hidup  orang
              banyak tak boleh dipaksakan di tengah kondisi pandemi dan krisis saat ini.

              "Bahwa perubahan besar pada hukum membutuhkan perdebatan dan diskusi dalam situasi atau
              lingkungan  yang  memungkinkan  adanya  kebebasan  berbicara,  kebebasan  berkumpul,  dan
              kebebasan  berekspresi.  Dalam  kondisi  pandemi  seperti  sekarang  ini,  hal  ini  tidak  mungkin
              dilakukan," ujarnya.

              Oleh  karena  itu  FSPM,  FSBMM,  SERBUK,  Persatuan  Pegawai  Indonesia  Power  (PPIP),  dan
              Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas Indonesia (FSP2KI) siap untuk melakukan perlawanan
              bersama-sama menolak Omnibus Law Ciptaker.

              Mereka mendesak DPR menghentikan pembahasan Omnibus Law Ciptaker dan tak mengesahkan
              RUU  tersebut dalam  rapat  paripurna  DPR.  Aliansi  buruh  ini juga  mendukung  agenda  mogok
              nasional pada tanggal 6 sampai 8 Oktober 2020.

              DPR dan pemerintah telah menyelesaikan pembahasan RUU Ciptaker pada tingkat I atau saat di
              Badan Legislasi (Baleg) Sabtu (3/10) malam. Tujuh fraksi, PDIP, Golkar Gerindra, PKB, NasDem,
              PAN,  PPP  setuju  RUU dibawa  ke  tingkat paripurna,  sementer  dua  fraksi,  Demokrat dan  PKS
              menolak.

              Meskipun mendapat penolakan dari dua fraksi, RUU Ciptaker tetap akan dibawa ke Paripurna
              pada 8 Oktober mendatang untuk disahkan. (tim/fra).


                                                           795
   791   792   793   794   795   796   797   798   799   800   801