Page 818 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 818

Salah satu poin yang ditolak serikat  buruh  yaakni ketentuan menghilangkan ketentuan terkait
              upah minimum  sektoral. Penerapan upah sektoral selama ini dilakukan lewan penetapan  Upah
              Minimum  Kota/Kabupaten (  UMK  ) dan Upah Sektoral (UMSK).

              Dengan dihapuskannya UMK, maka otomatis skema upah minimum akan menggunakan standar
              Upah Minimum Provinsi (  UMP  ). Sebagai informasi, dalam aturan skema upah minimum yang
              diatur dalam Pasal 88 dan Pasal 89 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, upah
              minimum terdiri dari UMK dan UMP.

              Baik UMP dan UMK, ditetapkan oleh gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari dewan
              pengupahan  provinsi  dan  bupati/wali  kota.  Penetapan  UMK  dan  UMP  didasarkan  atas
              perhitungan Kebutuhan Layak Hidup atau KLH. KHL saat ini berlaku 60 item, sementara yang
              diusulkan oleh serikat buruh mencapai 78 item komponen. Dijelaskan lebih lanjut di Pasal 90 UU
              Nomor 13 Tahun 2003, pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum
              yang ditetapkan.

              Sementara  itu  dalam  RUU  Cipta  Kerja    Omnibus  Law  BAB  IV  Ketenagakerjaan  Bagian  2,
              disebutkan  bahwa  di  antara  pasal  88  dan  pasal  89  Undang-Undang  Nomor  13  Tahun  2003
              tentang Ketenagakerjaan, disisipkan tujuh pasal yakni pasal 88A sampai 88G.

              "Berdasarkan hasil keputusan tripartit, menyepakati upah minimum padat karya dikeluarkan dari
              RUU Cipta Kerja, saya ingin menegaskan ini kabar baik dan harapan bagi pekerja dan serikat
              pekerja," jelas Ketua Baleg  DPR  RI Supraptman dalam keterangan resminya seperti dikutip
              pada Senin (5/10/2020).

              Ketua Departemen Komunikasi dan Media KSPI, Kahar Cahyono, mengungkapkan terdapat pasal
              yang dinilai dapat merugikan buruh/pekerja. Pertama, pasal 88C. Kahar menilai bunyi pasal itu
              berarti menghilangkan upah minimum sektoral kabupaten/kota.

              Artinya, buruh yang saat ini upahnya mengacu upah minimum sektoral kabupaten/kota (UMSK)
              atau upah minimum kabupaten/kota (UMK) akan dirugikan.

              "Pasal 88 C. Upah Minimum hanya UMP gitu? Tidak ada UMSK," kata Kahar dikutip dari  Kontan.

              Sebagai  perbandingan,  UMK  2020  di  Kabupaten  Karawang  Rp  4.594.324,  Kota  Bekasi  Rp
              4.589.708, Kabupaten Bekasi Rp. 4.498.961, dan Kota Depok Rp 4.202.105.

              Kemudian pasal 88D ayat (1), disebutkan formula kenaikan upah minimum hanya berdasarkan
              pertumbuhan ekonomi. Artinya, penetapan formula ini lebih buruk daripada penetapan kenaikan
              upah minimum berdasarkan PP 78 tahun 2015 tentang Pengupahan.

              "Lah terus formula kenaikan cuma dikali ke Pertumbuhan Ekonomi? (Ini) Lebih buruk dari PP 78,
              yang kenaikannya berdasarkan inflansi dan pertumbuhan ekonomi," kata Kahar. Sebagai contoh,
              kenaikan UMP/UMK 2020 adalah 8,51 persen.

              Berdasarkan Surat Kepala BPS Nomor B-246/BPS/1000/10/2019 Tanggal 2 Oktober 2019, inflasi
              pada tahun 2019 sebesar 3,39 persen, dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen.

              "Kalau hanya pertumbuhan ekonomi, berarti naiknya hanya 5,12 persen," ungkap dia.

              Sebagai informasi, berikut bunyi Pasal 88C yang akan ditambahkan ke dalam UU nomor 13 tahun
              2003 tentang ketenagakerjaan dalam RUU omnibus law cipta kerja.

              Pasal 88C  (1) Gubernur menetapkan upah minimum sebagai jaring pengaman.

              (2)  Upah minimum  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan upah minimum provinsi.


                                                           817
   813   814   815   816   817   818   819   820   821   822   823