Page 819 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 819

Kemudian pasal 88D  Pasal 88D  (1) Upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88C
              ayat (2) dihitung dengan menggunakan formula perhitungan upah minimum sebagai berikut:
              UMt+1 = UMt + (UMt x %PEt).

              "Sedangkan UMP Jawa Barat hanya Rp 1,81 juta," ucap dia.

              Dalam  penetapan  pengupahan  di  Indonesia,  ada  sejumlah  skema  yang  biasa  diterapkan.
              Pemilihan  skema  ini  yang  kemudian  memengaruhi  besaran  upah  yang  diterima  pekerja  dari
              pengusaha.

              Besarannya juga sangat tergantung dari masing-masing daerah yang umumnya menyesuaikan
              dengan harga kebutuhan pokok, tingkat inflasi, standar kelayakan hidup, dan variabel lainnya.

              Upah  minimum  yang  dibayarkan  pengusaha  kepada  pekerja  ini  umumnya  ditetapkan  setiap
              tahun  sekali.  Kenaikan upah  minimum dibahas bersama  antara pemerintah,  pengusaha,  dan
              pekerja atau lebih dikenal dengan tripartit.

              Dalam skema pengupahan, orang mengenal Upah Minimum Regional (UMR). Meski sering jadi
              pakem dalam penyebutan upah, skema pengupahan dengan model UMR sebenarnya sudah tak
              lagi digunakan.

              Penerapan UMR diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 1 Tahun 1999. Aturan ini
              kemudian direvisi lewat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 226 Tahun
              2000, sehingga secara tidak langsung UMR kini sebenarnya sudah tak berlaku lagi.
              Dalam regulasi lawas itu, dijelaskan bahwa UMR merupakan upah minimum yang penetapannya
              dilakukan oleh gubernur yang menjadi acuan pendapatan buruh di wilayahnya.

              Dalam proses penetapannya, tim yang disebut Dewan Pengupahan melakukan survei kebutuhan
              hidup pekerja dari kebutuhan pangan, sandang, hingga rumah yang kemudian diperoleh angka
              Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

              Istilah  UMR  kemudian  digantikan  dengan  UMP  dan  UMK.  Meski  dalam  praktiknya  tak  lagi
              digunakan,  UMR  masih  sering  digunakan  dalam  penyebutan  upah  minumum,  bahkan  oleh
              sebagian orang lebih sering menyebut UMR ketimbang menggunakan UMP dan UMK.

              Melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 226 Tahun 2000, UMR Tingkat
              I diubah menjadi Upah Minimum Provinsi (UMP). Sementara, UMR Tingkat II diubah menjadi
              Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).

              Artinya  sebelum  penggunaan  istilah  UMP  dan  UMK,  semua  penyebutan  upah  minimum
              menggunakan UMR, baik Tingkat I maupun Tingkat II. UMP merupakan perubahan nama dari
              UMR Tingkat I yang penetapannya oleh gubernur.

              Sementara, UMK yang tak lain dulunya disebut UMR Tingkat II ini merupakan standar upah
              minimum yang berlaku di daerah tingkat kabupaten/kota, meski penetapannya tetap dilakukan
              oleh gubernur meski pembahasannya diusulkan oleh bupati atau wali kota.

              Jika  pada  suatu  kabupaten/kota  belum  bisa  mengusulkan  angka  UMK,  maka  gubernur
              menjadikan UMP sebagai acuan untuk pemberian upah di kabupaten/kota tersebut.

              Selain UMK dan UMP, ada dua istilah lain dalam aturan pengupahan. Pertama, Upah Minimum
              Sektoral (UMS) Provinsi, sebelumnya bernama Upah Minimum Sektoral Regional Tingkat I.

              Adapun,  di  tingkat  kabupaten/kota,  dikenal  dengan  Upah  Minumum  Sektoral  (UMS)
              Kabupaten/Kota.  Sebelumnya,  sebelumnya  menggunakan  istilah  Upah  Minimum  Sektoral
              Regional Tingkat I.
                                                           818
   814   815   816   817   818   819   820   821   822   823   824