Page 825 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 825

Cuti hamil  atau  cuti melahirkan  sendiri diatur dalam Pasal 82 Undang-undang (UU) Nomor 13
              Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam  peraturan cuti melahirkan  tersebut,  cuti hamil
              diberikan selama 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan.

              Artinya, hak cuti hamil atau cuti melahirkan diberikan kepada karyawan wanita maksimal 3 bulan
              terhitung sejak karyawan bersangkutan mengajukan izin cuti hamil atau  surat permohonan cuti
              melahirkan  .

              "  Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan
              sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut
              perhitungan dokter kandungan atau bidan  ," bunyi Pasal 82 ayat (1).

              UU Ketenagakerjaan  juga memberikan cuti bagi pekerja perempuan yang mengalami keguguran
              atau  cuti keguguran  . Jumlah hak cuti yang bisa diperoleh yakni selama 1,5 bulan.

              "    Pekerja/buruh  perempuan  yang  mengalami  keguguran  kandungan  berhak  memperoleh
              istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau
              bidan,  " bunyi Pasal 82 ayat (2).

              Selain  itu  dalam  Pasal  83  juga  dijelaskan  bahwa  pekerja  perempuan  yang  anaknya  masih
              menyusui  harus  diberi  kesempatan  sepatutnya  untuk  menyusui  anaknya  jika  hal  itu  harus
              dilakukan selama waktu kerja.

              Selama masa cuti melahirkan tersebut, karyawan perempuan tetap diberikan hak upah penuh
              oleh  perusahaan.  Artinya,  perusahaan  tetap  memberikan  gaji  dan  penerimaan  lain  seperti
              tunjangan pada karyawan perempuan tersebut meskipun sedang menjalani hak cuti melahirkan.

              Bagi perusahaan yang tidak memberikan cuti hamil dan melahirkan selama 3 bulan atau tidak
              memberikan upah selama cuti hamil dan melahirkan, perusahaan bisa dikenakan sanksi sesuai
              Pasal 185 UU Ketenagakerjaan..

              Sanksi tersebut berupa pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun dan/atau
              denda paling sedikit Rp 100.000.000 dan paling banyak Rp 400.000.000.

              Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker)  Ida  Fauziyah  memastikan  bahwa  aturan  terkait  hak-hak
              pekerja tersebut akan tetap berlaku meski UU Omnibus Law Cipta Kerja disetujui, termasuk cuti
              melahirkan atau cuti hamil dan cuti haid.

              Pasalnya, ketentuan-ketentuan tersebut masih tercantum dalam aturan yang berlaku saat ini
              yaitu Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

              "Ketentuan ada di UU 13 2003, cuti hamil, cuti haid, cuti menikahkan, cuti menikah, kami tidak
              hapuskan itu," kata Ida dalam keteranganya.

              Ida  menyebut,  aturan  tersebut  tidak  tercantum  dalam  draf  RUU  Omnibus  Law  Cipta  Kerja
              sehingga aturan itu tidak mengalami perubahan.
              "Kalau eksis berarti tidak diatur  omnibus law  . Memang tidak ada di omnibus law karena adanya
              di UU 13 2003," ujarnya.

              Oleh karenanya, Ida menegaskan bahwa aturan mengenai peraturan cuti melahirkan hingga
              melahirkan bagi pekerja tetap akan berlaku.

              "Ada yang mengatakan RUU Cipta Kerja menghapus cuti hamil, cuti melahirkan, itu enggak. UU
              itu tetap ada," ucap dia.




                                                           824
   820   821   822   823   824   825   826   827   828   829   830