Page 592 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 592

Lebih  lanjut,  Endang  mempersoalkan  DPR  RI  dan  Pemerintah  yang  ngotot  mengesahkan
              Omnibus Law Ciptaker meski mendapat tentangan kuat dari buruh dan masyarakat luas.
              "Ada apa dengan pemerintah? Apakah memang ada desakan kuat dari kaum kapitalis untuk
              memanfaatkan situasi pandemi ini disaat posisi kami para buruh sedang lemah?" cetusnya.

              TKA  China    Terpisah,  puluhan  aktivis  mahasiswa  menggelar  demonstrasi  di  gedung  DPRD
              Sulawesi Tenggara menolak UU Cipta Kerja, Selasa (6/10). Namun, tak ada satu pun anggota
              dewan  yang  menemui  mereka.  Mahasiswa  kemudian  menyegel  gedung  DPRD  Sultra
              menggunakan spanduk yang dicoret Pilox.

              Ketua  Himpunan  Mahasiswa  Islam  (HMI)  Cabang  Kendari  Zulkarnain  menilai  DPRD  Sultra
              harusnya ikut bersikap untuk menolak UU Omnibus Law karena itu mempreteli kewenangan
              daerah dalam hal investasi yang masuk.

              Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi  "Rezim Jokowi dan DPR RI memaksakan Omnibus Law
              hanya untuk kepentingan bisnis dan mengabaikan kepentingan buruh pekerja. Omnibus Law
              juga ini akan melegalkan penguasaan atas tanah rakyat untuk kepentingan investasi," cetusnya,
              kepada  CNNIndonesia.com  , Selasa (6/10).

              Ia pun menyebut Omnibus Law akan makin membuka keran tenaga kerja asing (TKA) dari China.
              Terebih, investasi besar dari China sudah lama masuk di Sultra.

              "Jadi, Omnibus Law ini keran bagi tenaga kerja asing (TKA) asal China. Sebab, investasi China
              sangat besar di Sultra," kata Zulkarnain.

              Menurutnya,  TKA  China  banyak  menguasai  jenis  pekerjaan  yang  sebenarnya  bisa  dilakukan
              tenaga kerja lokal. Omnibus Law, kata dia, makin mendelegitimasi posisi tawar tenaga kerja lokal
              dalam jenis kerjaan serabutan.
              "Bayangkan, TKA China bekerja angkat sekopang yang harusnya bisa dikerjakan tenaga kerja
              lokal. Kalau bicara tenaga ahli, tidak mungkin mereka angkat sekopang. Makanya, Omnibus Law
              ini  bisa  menjadi  ancaman  keberadaan  tenaga  kerja  lokal  Indonesia  di  perusahaan  yang
              diinvestasikan oleh China," risaunya.

              Diketahui, Pasal 81 poin 4 hingga 11 RUU Ciptaker mengubah dan menghapus sejumlah aturan
              tentang pekerja asing dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

              Contohnya, dalam Pasal 81 angka 4 RUU Ciptaker pemerintah menghapuskan kewajiban izin
              tertulis bagi pengusaha yang ingin mempekerjakan TKA. Sebelumnya, kewajiban ini tertuang
              pada Pasal 42 angka 1 UU Ketenagakerjaan.

              Foto: CNN Indonesia/Fajrian  Sebagai gantinya, pengusaha hanya diwajibkan memiliki rencana
              penggunaan TKA.

              "Setiap  pemberi  kerja  yang  mempekerjakan  tenaga  kerja  asing  wajib  memiliki  rencana
              penggunaan tenaga kerja asing yang disahkan oleh pemerintah pusat", demikian bunyi Pasal 81
              angka 4 RUU Ciptaker.

              Kemudian, pemerintah juga mempersempit cakupan jabatan yang dilarang diduduki oleh TKA.
              Sebelumnya, Pasal 46 UU Ketenagakerjaan menyebut TKA dilarang menduduki jabatan yang
              mengurusi personalia dan jabatan-jabatan tertentu yang diatur dengan keputusan menteri.

              Namun,  Pasal  81  angka  8  RUU  Ciptaker  menyebutkan  Pemerintah  hanya  melarang  TKA
              menduduki jabatan yang mengurusi personalia.

              (syd/pnd/arh).
                                                           591
   587   588   589   590   591   592   593   594   595   596   597