Page 594 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 594

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Arif Maulana mengatakan dengan disahkan
              UU  tersebut  maka  menunjukkan  DPR  bukan  lagi  wakil  rakyat.  Karena  nyatanya  mereka
              mengabaikan aspirasi rakyat Indonesia yang tidak mengingikan UU Omnibus Law Cipta Kerja
              tersebut.

              "Pemerintah  dan  DPR  menunjukkan  bahwa  mereka  sejatinya  pemerintah  dan  DPR  hari  ini
              memang bukan wakil rakyat," ujar Arif kepada wartawan, Rabu (7/10).

              Menurut Arif, DPR dan pemerintah sudah mebuktikan keberpihakannya kepada pengusaha. Ini
              menjadi ironis sejatinya berpihak ke rakyat. Namun malah sebaliknya.

              "Mereka hanya menjadi wakil pengusaha dan pemodal, pemerintah dan DPR sudah melanggar
              mandat reformasi untuk tegakkan demokrasi dan konstitusi," katanya.

              "Mereka tidak peka dan peduli para kritik masyarakat yang menolak RUU ini sejak awal. Untuk
              kesekian kalinya suara rakyat diabaikan tak ubahnya pengesahan UU KPK, UU Minerba dan UU
              MK (Mahkamah Konstitusi-Red) yang cacat dan inkonstitusional," tambahnya.

              Adanya pengesahan UU tersebut juga akan memicu masyarakat tidak percaya lagi kepada DPR
              dan juga pemerintah. Sehingga hal ini sangat merugikan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

              "Pengesahan  UU  ini  akan  memicu  mosi  tidak  percaya  rakyat  pada  Presiden  dan  DPR,"
              pungkasnya.

              Sebelumnya,  Rancangan  Undang-Undang  (RUU)  Omnibus  Law  tentang  Cipta  Kerja  sudah
              disahkan menjadi UU oleh para anggota dewan pada rapat paripurna Senin (5/10).

              Dari pengesahan tersebut setidaknya ada dua fraksi yang melakukan penolakan Omnibus Law
              disahkan menjadi UU. Itu adalah Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
              (PKS).

              Selain itu elemen buruh juga menolak pengesaha UU Omnibus Law tentang Cipta Kerja tersebut.
              Sebagai  bentuk  penolakannya,  buruh  melakukan  mogok  kerja  nasional  tertanggal  dari  6-8
              Oktober 2020.

              (  Editor : Dinarsa Kurniawan  Reporter : Gunawan Wibisono   .































                                                           593
   589   590   591   592   593   594   595   596   597   598   599