Page 632 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 632

Bapak  Cucun  Ahmad  Syamsurija;  F-P.Demokrat:  Bapak  Edhie  Baskoro;  F-PKS:  Bapak  Jazuli
              Juwaini; F-PAN: Bapak Ali Taher; F-PPP: Bapak Arsul Sani)  Yang kami hormati, Para Anggota
              Dewan  Perwakilan  Rakyat  Republik  Indonesia,  Hadirin  dan  Undangan  yang  berbahagia,
              Assalamu'alaikum  Warrahmatullahi  Wabarakatuh,    Salam  Sejahtera  bagi  kita  semua,    Om
              Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan  1. Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke
              hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, pada hari ini
              kita  dapat  memenuhi  tugas  konstitusional,  yaitu  Pembicaraan  Tingkat  II/  Pengambilan
              Keputusan  terhadap  Rancangan  Undang-Undang  tentang  Cipta  Kerja  (RUU  Cipta  Kerja).
              Berkenaan  dengan  itu,  perkenankan  kami  menyampaikan  Pendapat  Akhir  Pemerintah  untuk
              pengambilan keputusan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Cipta Kerja.

              Ketua, Wakil Ketua dan Para Anggota Dewan Yang Terhormat,  2. Pemerintah mengucapkan
              terima kasih, apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada Ketua, Wakil Ketua,
              dan Anggota - Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang tentang Cipta Kerja - Badan Legislasi
              DPR  RI,  yang  telah  melaksanakan  proses  pembahasan  RUU  Cipta  Kerja  dengan  berbagai
              pandangan, masukan dan saran yang konstruktif.

              3.  Sebagai  pengingat  kita  bersama,  bahwa  Presiden  Republik  Indonesia Bapak  Joko  Widodo
              dalam Pidato Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Terpilih Periode 2019-
              2024 tanggal 20 Oktober 2019 telah menyampaikan bahwa kita memiliki potensi untuk dapat
              keluar dari jebakan negara berpenghasilan mengengah (middle income trap), dengan adanya
              Bonus Demografi yang kita miliki saat ini. Namun tantangan yang terbesar adalah bagaimana
              kita  mampu  menyediakan  lapangan  kerja.  Dengan  banyaknya  aturan  dan  regulasi  (hyper-
              regulasi), kita memerlukan penyederhanaan, sinkronisasi dan pemangkasan regulasi, dan untuk
              itulah perlunya membentuk UU Cipta Kerja, yang mengubah atau merevisi berbagai UU yang
              menghambat pencapaian tujuan untuk penciptaan lapangan kerja. UU tersebut sekaligus sebagai
              instrumen untuk penyederhanaan dan peningkatan efektifitas birokrasi.

              Sidang Dewan yang terhormat

              4. Pemerintah telah melakukan kajian terhadap kebijakan yang diperlukan dalam penciptaan
              lapangan kerja, serta kebutuhan atas regulasi yang diperlukan, termasuk mengevaluasi berbagai
              UU  yang  perlu  dilakukan  penyempurnaan.  Berdasarkan  kajian  tersebut,  Pemerintah  telah
              mengidentifikasikan beberapa aspek yang diperlukan dalam cipta kerja, yang dibagi dalam 11
              Klaster  permasalahan,  yaitu:  1)  Klaster  Penyederhanaan  Perizinan,  2)  Klaster  Persyaratan
              Investasi, 3) Klaster Ketenagakerjaan, 4) Klaster Kemudahan, Pemberdayaan, dan Perlindungan
              UMK-M  dan  Perkoperasian,  5)  Klaster  Kemudahan    Berusaha,  6)  Klaster  Dukungan  Riset  &
              Inovasi,  7)  Klaster  Administrasi  Pemerintahan,  8)  Klaster  Pengenaan  Sanksi,  9)  Klaster
              Pengadaan Lahan, 10) Klaster Investasi dan Proyek Strategis Nasional, dan 11) Klaster Kawasan
              Ekonomi.

              5.  Klaster-klaster  pemasalahan  tersebut  dipandang  akan  cukup  kuat  untuk  mendorong
              peningkatan investasi, sehingga akan mampu menciptakan lapangan kerja baru, dengan tetap
              memberikan  perlindungan  dan  kemudahan  bagi  UMKM  dan  Koperasi,  serta  meningkatkan
              perlindungan  bagi  pekerja  atau  buruh.  Dalam  rangka  mengintegrasikan  berbagai  klaster
              permasalahan tersebut, Pemerintah dalam melakukan pengkajian dan penyusunan kebutuhan
              regulasi, telah menggunakan metode  omnibus law  , yaitu suatu metode yang digunakan untuk
              mengganti dan/atau mencabut ketentuan dalam UU, atau mengatur ulang beberapa ketentuan
              dalam UU, ke dalam satu UU (tematik). Secara praktik,  omnibus law  telah banyak diterapkan
              di berbagai negara, dengan tujuan untuk memperbaiki regulasi di negaranya masing-masing,
              terutama dalam rangka penciptaan lapangan kerja (  job creation  ) serta peningkatan iklim dan
              daya saing investasi.

              6.  Dalam  kerangka  tersebut,  Pemerintah  telah  menyusun  RUU  Cipta  Kerja  dan  telah
              menyampaikan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), melalui
                                                           631
   627   628   629   630   631   632   633   634   635   636   637