Page 793 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 793

"Saat  ini  kita  harus  mengawal  dan  memastikan  BUMN  kita  betul-betul  menjadi  buffer
              perekonomian di tengah ancaman resesi, jadi tetap harus bekerja," tegasnya.
              Yunus menyatakan KSP BUMN bakal terus mengawal UU  Cipta Kerja  . Sebab, pihaknya tidak
              ingin perusahaan pelat merah secara korporasi turut dirugikan oleh aturan baru ini.

              "Terus terang kami belum membaca ribuan pasalnya karena belum sapat diakses UU yang sudah
              disahkan seperti apa. Apa benar UU ini justru berpihak pada swasta dan bagaimana dengan
              BUMN kita?" cibirnya.

              Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah,  menegaskan  pembahasan  RUU  Cipta  Kerja  telah
              dijalankan secara Tripartit dan sesuai dengan kesepakatan antar pihak yang terkait.

              "Rumusan klaster ketenagakerjaan yang ada dalam RUU Cipta Kerja saat ini merupakan intisari
              dari  hasil  kajian  pakar/ahli,  focus  group  discussion  (FGD),  Rembug  Tripartit  (pemerintah,
              pekerja/buruh dan pengusaha) yang sejak lama dilakukan atas beberapa materi ketenagakerjaan
              yang krusial," kata Ida dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (6/10/2020).

              Menurutnya Pemerintah menegaskan bahwa proses penyusunan RUU Cipta Kerja sejatinya telah
              melibatkan  partisipasi  publik,  baik  unsur  pekerja/buruh  yang  diwakili  serikat  pekerja/serikat
              buruh,  pengusaha,  kementerian/lembaga,  praktisi  dan  akademisi  dari  perguruan  tinggi  serta
              lembaga lainnya, seperti International Labour Organization (ILO).

              Bahkan pada saat RUU Cipta Kerja telah masuk dalam tahap pembahasan di DPR. Sesuai arahan
              presiden  pada  tanggal  24  April  2020,  Pemerintah  melakukan  kembali  pendalaman  rumusan
              klaster ketenagakerjaan yang melibatkan pengusaha (APINDO) dengan perwakilan Konfederasi
              Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

              "Dalam pertemuan tersebut, pemerintah banyak menerima masukan dari serikat pekerja/serikat
              buruh. Dengan proses yang telah dijalankan ini, pemerintah telah dengan seksama menyerap
              berbagai aspirasi, khususnya dari unsur pekerja/buruh," ujarnya.

              Kendati  begitu,  Pemerintah  menyadari  dalam  proses  penyusunan  RUU  Cipta  Kerja,  terdapat
              perbedaan  pandangan pro-kontra. Perbedaan  pandangan  ini  tentu  saja merupakan  hal  yang
              wajar dalam dinamika sosial dan demokrasi.

              Namun demikian, pada akhirnya Pemerintah harus memutuskan dan menyiapkan draf yang akan
              dibahas bersama DPR. Disisi lain, proses pembahasan RUU Cipta Kerja antara Pemerintah dan
              DPR berjalan secara transparan.

              Kata  Ida,  ini  untuk  pertama  kalinya  pembahasan  suatu  RUU  dilakukan  secara  terbuka  dan
              disiarkan melalui kanal-kanal media sosial yang tersedia. Hal ini dimaksudkan agar publik dapat
              mengawal proses pembahasan RUU Cipta Kerja secara seksama.
              "Kita telah menyaksikan bahwa proses pembahasan RUU Cipta Kerja di DPR berjalan dinamis,
              demokratis dan konstruktif. Pemerintah menerima banyak masukan dari Panja DPR sehingga
              menghasilkan perubahan rumusan ketentuan dalam klaster ketenagakerjaan," pungkasnya.

              Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta
              Kerja  menjadi  Undang-Undang  pada  Senin  kemarin.  Omnibus  Law  UU  Cipta  Kerja  ini
              dimaksudkan untuk menopang ekonomi Indonesia melalui investasi.

              Namun,  Sejumlah  ekonom  justru  mengatakan  sebaliknya.  Alih-alih  menjadi  ladang  investasi
              untuk  menimba  untung  sebesar-besarnya,  Executive  Director  at  Indonesia  Economic  Action
              Institution, Ronny P. Sasmita menilai Indonesia hanya akan menjadi sasaran eksploitasi bagi
              negara besar.

                                                           792
   788   789   790   791   792   793   794   795   796   797   798