Page 794 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 794
"Bagi China, melalui UU ini Indonesia akan dengan mudah menjadi lahan eksploitasi segala jenis
sumber daya alam yang akan menopang semakin meraknya industrialisasi di China. Mulai dari
batu bara, bijih besi, sampai Nikel. Jadi investor yang akan datang dari China, akan sangat terkait
dengan kepentingan untuk menjaga kedigdayaan China dalam supply chain dunia, bukan untuk
membuat Indonesia menerima manfaat sebesar-besarnya," kata dia kepada Selasa (6/10/2020).
Hal ini, lanjut Ronny, diperparah dengan kondisi politik Indonesia yang menurutnya tidak jelas.
Sementara investor dari negara besar lainnya seperti AS, sangat sensitif terhadap isu politik dan
geopolitik negara di mana mereka akan berinvestasi.
"Nah, terkait posisi Indonesia yang kurang jelas dalam konstelasi perang dagang, baik soal
Huawei, Tiktok, dan Wechat, soal Uighur, soal Hong Kong, soal Taiwan, soal Laut China Selatan,
dan lainya. Maka sudah bisa diperkirakan bahwa Indonesia belum akan menjadi prioritas dalam
perpindahan investasi Amerika dari China," kata dia.
Dalam kesempatan yang berbeda, Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara mengutarakan
hal serupa. Ia menilai, Omnibus Law UU Cipta Kerja ini tidak lantas membuat tren investasi
meningkat secara signifikan. Terlebih saat ini Indonesia berada dalam ambang resesi. Dimana
situasi ekonomi mengalami ketidakpastian, baik dari dalam maupun luar negeri.
Juga pencabutan sejumlah hak pekerja dalam Omnibus Law UU Cipta Kerja ini, dapat
mempengaruhi persepsi investor khususnya dari negara maju, terhadap Indonesia. Sebab, di
negara maju sangat menjujung tinggi hak pekerja.
"Bahkan dengan dicabutnya hak hak pekerja dalam omnibus law, tidak menutup kemungkinan
persepsi investor khususnya negara maju jadi negatif terhadap indonesia. Investor di negara
maju sangat menjunjung fair labour practice dan decent work dimana hak hak buruh sangat
dihargai bukan sebaliknya menurunkan hak buruh berarti bertentangan dengan prinsip negara
maju," jelas Bhima.
793

