Page 218 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 5 JULI 2021
P. 218

KSP DORONG PELATIHAN CALON PEKERJA MIGRAN LEWAT KARTU PRAKERJA

              KANTOR  Staf  Presiden  (KSP)  mendorong  adanya  agenda  pelatihan  melalui  program  Kartu
              Prakerja bagi para calon pekerja migran Indonesia (PMI). Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko
              menilai  hal  tersebut  perlu  dilakukan  demi  meningkatkan  kualitas  para  calon  PMI  sebelum
              akhirnya ditempatkan di suatu negara.

              Selama ini, keterbatasan anggaran pelatihan dan sertifikasi memang masih menjadi persoalan
              bagi  pemerintah.  Oleh  karena  itu,  Moeldoko  mencoba  melakukan  terobosan  dengan
              memanfaatkan keberadaan program Kartu Prakerja.

              Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Manajemen Pelaksana Program (PMO) Kartu Prakerja
              untuk  bisa  bekerja  sama  dengan  Kementerian  Ketenagakerjaan  demi  mendukung  kebijakan
              tersebut.

              "Yang pertama tentang Kartu Prakerja, saya sudah panggil PMO. Pada dasarnya, seharusnya
              bisa  dilakukan  kerja  sama  dengan  Kemenaker,  dengan  syarat  menggunakan  platform  Kartu
              Prakerja," ujar Moeldoko di Ruang Rapat Utama KSP, Jumat (2/7).

              Ia  pun  berencana,  dalam  waktu  dekat,  akan  mempertemukan  kedua  belah  pihak  untuk
              membahas rencana tersebut secara lebih detil. "Nanti akan dikomunikasikan, kalau perlu kami
              pertemukan Kemenaker dengan manajemen Kartu Prakerja," ungkapnya.

              Kemenaker mencatat, pada 2021, alokasi anggaran pelatihan hanya tersedia untuk 3.008 orang.
              Bila berkaca pada 2020, jumlah penempatan PMI mencapai 112.000 orang, Direktur Jenderal
              Binapenta  dan  Perluasan  Kesempatan  Kerja  Kemenaker  Suhartono  mengungkapkan  saat  ini
              pihaknya  telah  menyusun  besaran  struktur  biaya  pelatihan  untuk  dievaluasi.  Hal  itu  perlu
              mendapat perhatian agar proses penempatan lancar dan tidak membebani pemberi kerja di luar
              negeri.

              Selain itu, tantangan dan kendala lain dalam penempatan PMI di masa sekarang adalah soal tes
              PCR  dan  pemberian  vaksin  covid-19.  Hal  tersebut  dinilai  perlu  mendapat  perhatian  karena
              adanya beberapa persyaratan khusus dari negara tujuan kerja.

              "Kami perlu lebih masif karena penempatan pekerja migran ke luar negeri menjadi alternatif
              untuk mengurangi tingkat pengangguran. Tapi tes PCR dan vaksin menjadi persyaratan utama.
              Dan ada beberapa negara yang hanya menerima pekerja migran dengan jenis vaksin tertentu,"
              jelas Suhartono.

              Dalam menanggapi hal tersebut, Moeldoko menyatakan akan mengatur beberapa komunikasi
              dan pertemuan dengan berbagai pihak terkait. Terutama terkait vaksin, ia menilai hal tersebut
              sangat mungkin dilakukan dengan baik saat ini.

              "Terkait PCR dan vaksin menurut saya tidak susah, karena kita memang sudah ada program
              vaksinasi. Misalnya perlu vaksin tertentu untuk negara tertentu, nanti akan kita carikan. Misalnya
              untuk ke Eropa perlu vaksin Pfizer, ya nanti akan kita carikan," tegas Moeldoko.

              Namun, ia menyatakan perlu adanya pengaturan jadwal, dan data yang lengkap untuk pekerja
              migran yang akan divaksinasi. Dengan begitu, proses vaksinasi dan jadwal keberangkatan bisa
              terpantau dengan baik.

              "Vaksin kan ada jedanya untuk dua dosis, nah ini perlu waktu. Jangan sampai vaksin berikutnya
              kedodoran.  Perlu  ada  timeline  yang  pasti.  Perlu  ada  data  siapa,  kapan,  mau  kemana,  dan
              vaksinnya apa? Kita bisa bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dalam hal ini," tandas
              Moeldoko. (P-2).


                                                           217
   213   214   215   216   217   218   219   220   221   222   223